RSS

Lantas Bagaimana Setelah Parade Tauhid?

02 Dec

Parade Tauhid yang digelar di seputar Senayan, Jakarta, Ahad (16 Agustus 2015) rupanya sukses berjalan. Seperti biasa, tak bisa mengharapkan media sekuler untuk mempublikasikan acara ini dengan jujur. Sebagaimana acara-acara umat Islam lain yang sukses dan mampu menggetarkan, media sekuler tak akan mengabarkannya. Sungguh pun begitu, toh kesatuan umat Islam tak tergantung dari headline mereka.

Lantas setelah ini apa? Pekerjaan Rumah umat Islam Indonesia masih menumpuk. Tentu berkumpulnya ratusan ribu umat Islam di Jakarta yang datang dari berbagai daerah belum bisa menjawab semua PR itu. Kalau dibilang ini adalah awal bangkitnya kekuatan umat Islam, rasanya acara yang mengumpulkan umat muslim Indonesia dalam jumlah yang banyak di suatu tempat sudah beberapa kali terselenggara sebelumnya. Lantas bagaimana selanjutnya?

Yang jelas acara tadi menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih terkonsolidasi dengan baik. Tokoh-tokoh umat Islam yang hadir maupun yang tak hadir – namun sempat menyatakan dukungannya melalui video, telah menandakan masih kuatnya soliditas di tubuh umat. Ini adalah modal yang berharga.

Umat muslim di Indonesia saat ini sedang terpuruk dalam aspek kultural maupun struktural. Islam tidak lagi populer sebagai jalan hidup yang men-shibghoh seorang muslim dari fikiran maupun seleranya. Dan umat Islam sendiri rela dipimpin oleh orang yang tak menuntunnya kepada jalan Allah yang menyelamatkan. Persis seperti gambaran hadits Rasulullah berikut:

“Buhul/ikatan Islam akan terputus satu demi satu. Setiap kali putus satu buhulan, manusia mulai perpegang pada tali berikutnya. Yang pertama-kali putus adalah adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR Imam Ahmad)

Syariat Islam terhalang untuk tegak di bumi Nusantara ini. Sementara umat muslim juga banyak yang tak disiplin dalam menegakan sholatnya.

Maka, setelah ini perlu ada langkah terukur terkoordinasi mem-follow-up parade ini untuk mengembalikan kejayaan Islam dari aspek kultural maupun struktural.

Follow Up Kultural

Kalau Rasulullah mengatakan bahwa simpul Islam yang paling akhir terurai adalah sholat, maka itu adalah petunjuk dari mana memulai kembali kebangkitan Islam.

Sholat adalah aktivitas individu umat muslim yang menandakan sejauh apa kekuatan interaksinya dengan Allah swt. Ajakan menegakkan syariat kepada orang yang sholatnya masih tertatih tak kan efektif.

Kekuatan kultural dimulai dari gerakan disiplin sholat lima waktu. Setelah disiplin, seorang muslim bisa diarahkan untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dengan sholat berjamaah di masjid. Ramainya masjid di tiap waktu sholat menandakan telah baiknya kesadaran umat Islam terhadap agamanya. Rasanya sudah umum diketahui fadhillah sholat berjamaah dalam menyatukan umat.

Dalam Al-Qur’an, kata sholat sering disandingkan dengan zakat. Memang Rasulullah saw tidak mengabarkan apa simpul diin Islam yang terburai sebelum simpul sholat. Tetapi melihat dekatnya kata sholat dan zakat, bisa disimpulkan zakat lah simpul kedua terakhir sebelum sholat. Dan ini juga bentuk gerakan kultural.

Gerakan kultural zakat dan sedekah yang sukses memberdayakan ekonomi umat Islam akan berkontribusi memberantas kekufuran. Sebuah hadits (namun berderajat lemah, didhoifkan oleh Al-Albani) memberi sinyal tentang hal ini. “Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran” (HR Baihaqi)

Gerakan-gerakan kultural ini yang harus dirumuskan pemuka-pemuka organisasi massa umat Islam yang hadir pada parade kemarin. Bagaimana memotivasi umat Islam untuk memperbaiki kualitas ibadahnya. Kerumunan orang-orang yang mengikuti parade kemarin harusnya berlanjut dalam masjid hingga memenuhinya setiap lima kali sehari.

Usul konkrit, bisakah diadakan mabit besar-besaran di istiqlal yang dipanitiai oleh ormas-ormas Islam yang berkumpul di parade kemarin?

Follow Up Struktural

Kejayaan struktural ini yang sangat sulit diwujudkan, karena untuk sholat saja umat muslim masih kurang disiplin. Namun dalam alam demokrasi, sejatinya umat Islam punya kekuatan dalam angka. Pendekatan yang tepat akan mampu menjadikan angka ini modal untuk mengembalikan ketinggian Islam.

Mayoritas umat Islam Indonesia tidak menolak mentah-mentah kehadiran kalangan Islamis di kancah perpolitikan. Mereka cuma belum mendapatkan sosok yang tepat untuk dipilih. Sekalipun kita bersikeras bahwa banyak dari kalangan Islamis yang layak menjadi pemimpin, masalahnya mereka belum teryakini.

Ada yang menilai bahwa masyarakat kini tidak lagi menjadikan ideology dalam mendasari pilihan politiknya. Masyarakat dikatakan lebih rasional dalam menentukan pilihan, mempertimbangkan prestasi serta gagasan calon.

Tidak sepenuhnya benar, karena money politics masih marak. Selain itu kenyataannya masyarakat masih mudah ditipu pencitraan media maupun tampilan seorang politisi yang terlihat lugu namun sesungguhnya janjinya palsu.

Tapi penilaian itu bisa menjadi jalan masuk pembuktian kalangan Islamis bahwa mereka juga bisa berprestasi dan bisa memimpin negeri. Sudah ada beberapa nama pemimpin daerah dari partai Islam yang bergelimang penghargaan. Hanya saja media sekuler ogah mengangkat nama mereka. Agitasi terhadap mereka pun luar biasa. Penghargaan-penghargaan itu dituduh semu karena dikatakan masyarakat belum merasakan manfaatnya. Padahal sebuah penghargaan tentu punya ukuran yang masyarakat menjadi objeknya.

Jadi, boleh saja masyarakat tidak menjadikan ideology sebagai dasar mengambil pilihan, melainkan data dan citra seorang politisi. Tetapi media masih punya ideology. Mereka yang menipu masyarakat dengan cerita-cerita semu pencitraan.

Inilah PR barisan inti umat Islam yang masih punya hasrat ingin melihat Islam berjaya. Yaitu pertama menghadirkan sosok-sosok yang benar-benar punya kapasitas, kapabilitas, dan integritas untuk memimpin. Dan kedua bagaimana bahu membahu memarketing sosok-sosok itu.

Follow Up Menjaga Ukhuwah dan Soliditas

‘Alaa kulli haal, pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding dalam parade tauhid kemarin harus bisa diteruskan dengan soliditas yang terus terjaga. Semoga parade tadi hanya sebuah bola salju kecil yang siap menggelinding ke bawah. Semoga kesadaran persatuan itu disambut lagi oleh komponen umat Islam yang belum sempat bergabung di parade kemarin.

Soliditas tetap dijaga, dan langkah-langkah konkrit dirumuskan. Semoga mejadi jalan li ilaai kalimatillah. Amiin

 

Alhamdulillah dimuat di kabarumat

 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2015 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: