RSS

Toa, Kaset Mengaji, dan Islam Nusantara

02 Jul

Di antara simpang siur dan kerancuan definisi Islam Nusantara, saya memilih definisi bahwa Islam Nusantara adalah cara muslim di Nusantara mengekspresikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Bisa saja ada yang tidak setuju dengan definisi ini, karena memang definisi Islam Nusantara belum ada kejelasan hingga sekarang.

Bisri Effendy, dalam diskusi pemuda Nahdhatul Ulama dan Gusdurian di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat 10 April 2015, mensinyalir belum ada definisi yang jelas mengenai Islam Nusantara. “Kita harus mendefinisikan Islam Nusantara sendiri, sebelum didefinisikan orang lain. Masak Amerika mendefinisikan Islam sebagai teroris ini kan repot,” ujarnya.

Maka memang jelas istilah ini muncul tanpa ada kejelasan definisi dan contoh aplikasi. Tak salah bila seribu kepala punya seribu definisi tentang Islam Nusantara, dan satu sama lain saling bertengkar mengklaim definisinya yang benar. Jadilah istilah ini ajang pertengkaran baru.

Pada lalu lintas wacana dan dialektika tentang Islam Nusantara yang beredar di dunia maya, saya temui istilah baru dan asing ini dihubung-hubungkan dengan ritual yasinan, tahlilan, bahkan beduk dan kotak amal berjalan. Yang khas dan menjadi ciri muslim menjalankan Islam di Nusantara, itulah Islam Nusantara.

Pak Jokowi, beberapa waktu lalu juga mengungkit istilah ini. “Islam Indonesia adalah Islam Nusantara. Islam Nusantara itu lebih baik, lebih ramah, lebih moderat dari Islam Irak, Islam Suriah atau Islam Libya.” Begitu ujarnya. Tanpa menjelaskan lebih detail seperti apa pengetahuan pak Jokowi mengenai Islam Irak, Islam Suriah, atau Islam Libya.

Berbicara Islam Nusantara, maka penekanannya adalah pelestarian budaya. Bahwa cara berislam umat Islam di Indonesia ini harus dilindungi dari ajaran-ajaran yang disinyalir ingin menghapus kebiasaan tahlilan, yasinan, beduk, dll. Bahwa cara orang Indonesia berislam memang sudah begitu, mbok ya jangan diutak-atik. Begitu atmosfir yang saya rasakan saat menyelami diskursus tersebut.

Bila itu adanya, maka saya benar-benar ingin tahu bagaimana tanggapan pendukung Islam Nusantara terhadap kebiasaan sholawatan, marhabanan, memutar kaset mengaji, ceramah agama dan lain-lain yang menggunakan toa atau suara pengeras dari masjid?

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) beberapa waktu lalu menggugat pemutaran kaset mengaji sebelum shubuh yang disebutnya polusi suara. Ia mengenang kisah masa lalunya yang terganggu dengan suara mengaji dari pengeras suara di sebuah masjid yang bertujuan membangunkan orang untuk sholat Shubuh. Dan JK tampaknya begitu terganggu sampai-sampai ia membuat tim pemantau suara kaset mengaji.

Kebiasaan membangunkan orang untuk sholat Shubuh ini merata di berbagai tempat di Nusantara. Beberapa menit atau hingga satu jam sebelum Shubuh, pengeras suara masjid-masjid bersahutan. Ada marbot (penjaga masjid) yang bersuara membangunkan orang, ada suara mengaji, atau suara ceramah dari kaset. Apakah ini diklaim sebagai Islam Nusantara juga?

Lalu bagaimana dengan kebiasaan lain yang juga menggunakan pengeras suara. Sholawatan, marhabanan, tak pernah alpa menggunakan pengeras suara. Termasuk ceramah di masjid pun disiarkan menggunakan pengeras suara dari masjid. Apakah kebiasan-kebisaan itu diklaim juga sebagai bagian dari Islam Nusantara?

Tak hanya di masjid, tahlilan dan yasinan yang diselenggarakan di rumah-rumah warga pun menggunakan pengeras suara. Apakah itu disebut polusi suara?

Yang paling gencar mengkampanyekan Islam Nusantara adalah warga dan Kiai NU. Sementara masjid-masjid yang terbiasa memutar kaset sebelum shubuh, membangunkan orang untuk sholat Shubuh, menyiarkan sholawatan, dan marhabanan adalah masjid  yang dikelola wargaNU. Ormas lain misalnya Muhammadiyah dan Persis, jelas tak punya tradisi sholawatan dan marhabanan. Untuk membangunkan jamaah sholat Shubuh, beberapa masjid Muhammadiyah mengumandangkan adzan beberapa waktu sebelum adzan shubuh.

Gugatan terhadap toa masjid sebenarnya lebih dulu daripada istilah Islam Nusantara. Penggugatnya, sepengamatan saya, adalah aktivis dan simpatisan Islam Liberal. Dan mereka pula yang ikut-ikutan menggaungkan Islam Nusantara.

Nah, kira-kira apa jawaban para penganjur Islam Nusantara atas keluhan Jusuf Kalla itu? Semoga tak ada standard ganda. Saya ingin sekali mendengar mereka membela suara-suara yang dikeraskan dari masjid karena menganggap itu semua adalah bagian dari Islam Nusantara.

* Alhamdulillah dimuat di KabarUmat

 
Leave a comment

Posted by on July 2, 2015 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: