RSS

Monthly Archives: June 2015

Menjaga Hati

menjaga hati

Suatu hari terjadi percakapan antara saya dengan seorang senior di kampus, ketika saya masih di bangku kuliah. Di pembicaraan itu, senior saya mengkritik perilaku teman-teman mahasiswa aktivis dakwah yang suka menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan lawan jenis. Senior saya berkata, “Katanya jaga hijab… Yang perlu dihijab kan hati. Walau pun tidak melihat tapi hatinya bermain, kan sama saja bohong. Lebih baik hati yang dihijab.” Seperti itu lah kira-kira.

Saat itu saya mangut-mangut. Ungkapan itu terdengar logis.

Berapa lama kemudian di sebuah pengajian, terdengar kritik dari seorang anggota pengajian (dia adalah senior saya yang lain) kepada para aktivis dakwah kampus yang menyepelekan hijab. “Mereka bilang ghodul qulub (menjaga hati) lebih penting, kemudian menyepelekan ghodul bashor (menjaga pandangan). Padahal yang benar ghodul bashor ilaa ghodul qulub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Jaga pandangan dulu untuk kemudian jaga hati!”

Nah lho… saya termangut-mangut lagi. Mana yang benar?

Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah penjagaan yang langsung di pusatnya: hati, daripada bersusah-susah menjaga pandangan. Tapi menurut senior kedua, tidak mungkin menjaga hati apabila tidak menjaga pandangan.

Sejauh mana kita bisa menjaga hati? Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah kita mengontrol langsung hati kita sendiri. Pertanyaannya, bisa kah kita mengontrol atau mengendalikan hati kita?

Bahwa kondisi hati mengendalikan kita, jelas sekali dalilnya. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Lalu, sekali lagi, sejauh apa kendali kita terhadap hati?

Di surat Al-Anfal ayat 24, Allah swt berfirman, “…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.

Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthofifin : 83)

Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.

Lalu yang termasuk maksiat adalah melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”” (QS. An-Nuur : 30-31).

Karena itu, saya rasa pernyataan senior yang kedua lebih tepat: ghodul bashor ilaa ghodul quluub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Bagaimana mungkin kita menjaga hati sementara indera kita dibiarkan bermaksiat?

*****

Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.

Yang diharapkan adalah ketika berada pada masa jenuhnya, seseorang tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya kembali kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib

Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya.

Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat.

Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.

*****

Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)

Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.

Kalau pikiran itu terlalu sering melintas, bermuhasabahlah. Khawatirnya hati kita sudah menjadi sarang penyakit. Kalau benar, maka segeralah bertaubat.

Jagalah indera kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya.

Allahu’alam bish-showab.

 

Karena Kelembutannya, Dakwah Bersemi

pengajian ibu ibu

“Pengajian apa?” Itu pertanyaan saya kepada adik saya saat mendengar ia ada agenda pengajian. Pertanyaan menyelidik, karena adik saya pernah terjebak pada suatu pengajian yang mengajak aggotanya untuk membentuk sebuah negara sendiri.

“Pengajian umum ibu-ibu biasa kok. Ta’lim” Ujarnya. Kemudian adik saya menceritakan tentang sosok ketua pengajian di komplek perumahan baru di Cileungsi itu. Rupanya ketuanya adalah mantan aktifis dakwah kampus. Aku manggut-manggut.

“Tapi dimusuhin.” Kata adik saya lagi.

Saya terperanjat. “Lho, kenapa?”

Rupanya ada ibu-ibu yang punya latar belakang berbeda, yang menganggap pengajian yang diasuh mantan aktifis dakwah kampus itu pengajian yang sesat. Pengajiannya dinilai beda karena tidak ada yasinan, tidak ada pembacaan Barzanji, sholawatan, dan alasan lain.

“Terus ketua pengajiannya klarifikasi dengan ibu yang musuhin itu. Dia bilang, ‘Bu, agama saya Islam, sama enggak? Nabi saya Muhammad saw, sama enggak? Pedoman saya Al-Qur’an dan hadits, sama enggak? Lalu kita bedanya apa?’ Begitu pertanyaan ketua pengajiannya kepada ibu-ibu yang musuhin dia.” Ujar adik saya.

Wow, saya kagum dengan keberanian akhwat itu melakukan klarifikasi langsung kepada orang yang menyebar isu.

“Ketua pengajiannya juga udah mempersilakan kalau anggota pengajian mau baca yasinan. Pekan pertama yasinan, pekan kedua belajar tajwid. Begitu usul ketua pengajiannya. Dia juga bilang ke anggotanya, ‘Ibu-ibu, saya memang pernah belajar Islam di kampus. Tapi kalau rebanaan, baca Barzanji, saya gak bisa. Gak pernah belajar itu. Masih mau nunjuk saya jadi ketua?'” Lanjut adik saya.

“Terus akhirnya ibu yang musuhin tadi gimana?” Tanya saya.

“Ibu itu tetep aja musuhin. Mereka bikin kelompok pengajian sendiri. Tapi cuma jadi minoritas di sini.”

Saya menyayangkan sekali keadaan ini. Inilah keadaan nyata umat Islam walau tercermin dalam lingkup sebuah komplek perumahan. Susah sekali bersatu hanya karena ada perbedaan pendapat dan perbedaan tradisi.

“Warga sini ga curiga dengan ketua pengajian itu?” Tanya saya.

“Iya memang awalnya warga sini bisik-bisik… Dia aliran apa sih. Tapi lama-lama orang-orang bisa nerima. Sebabnya ketua pengajian itu lembut banget.” Jawab adik saya.

Aha.. Kelembutan. Itu dia kunci sukses dakwah. Dan saya saksikan sendiri bagaimana masyarakat bisa menerima seorang da’iyah karena kelembutan sikap yang dimilikinya.  Kelembutan itu yang bisa membuat mantan aktifis dakwah kampus itu bertahan menghadapi fitnah saat ia membangun dakwah di masyarakatnya. Kelembutan itu sejatinya adalah kekuatan. Sedang sikap keras dan kasar itu adalah kelemahan. Kelembutanlah yang mendorong da’iyah itu melakukan klarifikasi langsung kepada orang penebar keraguan terhadap dakwahnya. Kelembutan juga yang membuatnya legawa bila anggota pengajian tidak lagi menghendakinya memimpin pengajian ibu-ibu, walau akhirnya anggota pengajian tetap mendukungnya memimpin penyelenggaraan pengajian rutin di kompleks itu.

Pada kelembutan seorang da’i, ada mental yang baja.

 

Menyusun Sendiri Kebahagiaan Diri

bahagia

Di sebuah kelas, seorang guru membagikan sebuah kertas mewarnai yang berisi gambar pemandangan beserta satu kotak crayon kepada anak-anak murid TK-nya. Untuk pembagian crayon, mereka tidak diberikan 12 jenis pinsil warna yang komplit. Tapi paling banyak hanya 8 warna. Tiap anak mendapat pensil warna berbeda-beda. Sengaja untuk memancing kreativitas anak.
Di antara murid-murid tersebut, terdapat 2 anak yang spesial di antara mereka. Kedua-duanya hanya memiliki warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru. Kedua anak tersebut berbeda sikapnya saat bekerja mewarnai kertas tesebut.

Salah seorang dari mereka uring-uringan tidak mau mewarnai. “Bagaimana bisa mewarnai?”, pikirnya. “Gambar matahari yang ada pada kertas tersebut, seharusnya diwarnai dengan warna oranye. Tapi aku tidak mendapati warna oranye di kotak crayon yang dibagikan. Gambar pepohonan seharusnya diwarnai dengan warna hijau. Tapi tidak ada warna hijau. Selain itu, tidak ada warna biru muda. Yang ada warna biru tua. Padahal aku ingin langit diwarnai dengan warna biru muda”

Anak tersebut begitu idealisnya. Ia tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang ada. Akhirnya, alih-alih mewarnai, ia hanya merajuk diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya bisa iri atas teman lain yang memiliki pinsil warna yang lengkap.

Anak yang lain malah asyik mewarnai. Memang, warna yang tersedia tidak komplit. Tapi itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan keasyikan dari aktifitas mewarnai. Ia cukup cerdas mengakali kekurangan warna tersebut. Untuk mewarnai gambar matahari, mula-mula ia beri warna kuning. Lalu warna kuning itu ia timpa dengan warna merah. Hasilnya, warna oranye yang cerah untuk matahari.

Begitu juga untuk warna pepohonan, mula-mula ia beri warna biru, lalu ia campurkan dengan warna kuning sehingga membentuk warna hijau. Lalu untuk warna langit, mula-mula ia beri warna biru tua. Setelah itu ia goreskan pinsil warna putih sehingga warna birunya sedikit memudar.

Saudaraku, setidaknya itu menggambarkan penyikapan insan atas apa yang diterimanya. Ada manusia yang sulit menerima kekurangan-kekurangannya. Ia menghabiskan waktunya untuk mengeluh karena tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Ia mengeluh karena istri yang dimilikinya tidak cantik, atau gaji yang diterimanya tidaklah memadai, atau pekerjaan yang digelutinya tidak menyenangkan, dsb.

Insan model tersebut, adalah insan yang berkata, “Ah, andai gajiku lebih besar lagi, tentu aku bisa berinfak”. “Ah, andai istriku cantik, tentu mudah untuk ghodul bashor.” “Ah, andai pekerjaanku tidak terlalu sibuk, tentu aku bisa menghafal Al-Qur’an.”

Orang seperti ini tidak bisa bahagia atas apa yang dimilikinya. Ia tidak mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya. Dalam cerita di atas, orang seperti ini jauh berbeda dengan sikap anak yang kedua.

Bandingkan dengan sikap anak yang kedua. Ia adalah profil orang yang mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya atas apa yang ia miliki. Ia tidak peduli dengan apa yang tidak dimilikinya, dan tidak peduli atas apa yang orang lain miliki. Orang seperti ini kebahagiaannya tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Dengan apa yang dimilikinya, ia mampu menciptakan kebahagiaan.

Kebahagiaan terbentuk bukan tergantung dari keberadaan materi, tapi tergantung dari keberkahan materi. Sebuah materi menjadi berkah manakala ia memberikan manfaat bagi pemiliknya.

Aktivitas orang tipe kedua juga tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Apabila ia ingin bersedekah tapi benar-benar tidak punya barang untuk disedekahkan, maka ia bisa melakukan sholat dhuha, atau ia bisa menawarkan tenaganya untuk membantu orang lain. Minimal, ia memiliki senyum untuk disedekahkan kepada orang lain.

“Bagi masing – masing ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

Saudaraku, susunlah kebahagian sendiri atas apa yang kita miliki.

 

Dialektika Memperkuat Keimanan

dialog

Manusia selaku makhluk sosial tentu berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Dan dalam interaksi itu, tak jarang terjadi konflik atau minimal beradu pendapat antar sesama manusia. Wajar, karena tiap insan memiliki latar belakang berbeda-beda dan pola pikir yang tak sama.

Dalam tataran makro, selisih pendapat ini bahkan sudah menjadi persaingan pemikiran dan ideologi maupun agama di tengah peradaban manusia. Antara ideologi buatan manusia terjadi perdebatan panjang yang melibatkan para pendukungnya. Kapitalisme beradu dengan komunisme, beradu pula dengan sosialisme. Orang filsafat memperkenalkan istilah tesis – antitesis – sintesis. Maksudnya pergulatan pemikiran-pemikiran itu tak jarang menghasilkan pemikiran baru yang menengahi kedua kutub yang diperdebatkan.

Perdebatan soal agama pun tak kunjung usai. Islam mengklaim bahwa hanya agama inilah yang diterima di sisi Allah swt, seraya mengingkari agama selainnya. Kristen pun punya konsep sendiri yang juga mengingkari agama lainnya. Begitu juga agama lain, mengingkari ajaran selain ajaran agama itu. Istilah kafir, non believers, dan sebagainya adalah term yang lumrah dipakai dalam pembicaraan keagamaan yang bersinggungan dengan teologi atau aqidah.

Ini adalah kenyataan yang tidak bisa ditutupi dengan kebohongan dan penipuan lewat istilah pluralisme agama.

Sesungguhnya perdebatan-perdebatan ini justru akan melahirkan seorang ulul albab, orang yang menggunakan akal pikirannya untuk mendekat diri kepada Allah swt. Perdebatan ini akan memperkuat keimanan kepada Allah swt karena hati yang bersih akan melihat dengan jelas mana argumentasi yang haq dan mana yang bathil.

“Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al Israa’ :81)

Seorang yang memiliki hati yang bersih tentu akan menemukan keadilan dalam konsep ekonomi Islam. Ketika dikomparasikan dengan konsep ekonomi kapitalis yang menghalalkan riba, akan terlihat jelas kekuatan sistem yang diturunkan oleh Allah swt yang mengutamakan keadilan. Ketika dikomparasikan dengan konsep komunis yang tak mengenal kepemilikan individu, makin terlihat jelas bahwa Islam sangat menghargai hak-hak dasar seorang manusia.

Kasus yang sedang hangat adalah soal miss world. Kita melihat bahwa orang-orang yang memahami Islam akan menolak acara miss world. Sedang mereka yang tak mengenal Islam akan mendukung acara ini.

Rupanya argumen penolak acara miss world sangat manusiawi. Mereka menolak wanita dijadikan bahan eksploitasi sebagai sarana pemuan nafsu laki-laki. Akan ditemukan bahwa argumen ini lahir dari prinsip keadilan dan egaliter, bahwa pria dan wanita memiliki derajat yang sama. Dari pro kontra acara miss world ini semakin terlihat keindahan Islam.

Konflik dan dialektika memang tidak akan bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Pluralisme agama, ajaran yang menipu itu terdengar manis karena seolah menghindari perselisihan ini. Namun sesungguhnya perdebatan itu baik, dan sengaja Allah setting adanya perdebatan itu agar semakin terlihat keindahan Islam bagi orang yang memiliki akal dan berhati bersih. Dan itu adalah ciri ulil albab…

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (ulul albab)” ( QS. az-Zumar 39:18 )

3 September 2013

 

Hisab

hisab

Allah berfirman dalam surat Al-Insyiqaq :“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” (Al-Insyiqaq : 7-8).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini: “Maksudnya ia akan dihisab dengan lancar dan tanpa kesulitan. Seluruhnya amalnya tidak akan diperiksa secara teliti. Sebab orang yang dihisab secara teliti, pasti binasa. “

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dihisab dengan rinci, ia pasti disiksa.” ‘Aisyah berkata, “Bukankah Allah telah berfirman : “Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” Beliau menjawab, “Itu bukan berarti dihisab, tetapi hanya diperlihatkan amalnya. Barangsiapa hisabnya dirinci pada hari kiamat, ia pasti disiksa.” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh beruntung orang mukmin yang dihisab dengan mudah tanpa dirinci. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan orang kafir.

“…Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS 13 : 18)

“Hari penghisaban membuat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang merugi dan yang beruntung. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), “(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),” (QS 56 : 3).

Selanjutnya orang-orang yang beruntung itu Allah bagi lagi menjadi dua bagian, hingga terdapat tiga kelompok seperti yang disebutkan pada surat Al-Waaqi’ah ayat ke 7, “dan kamu menjadi tiga golongan”. Golongan pertama adalah Ashabul Maymanah (golongan kanan, ayat ke 8) , Ashabul Masy’amah. (golongan kiri, ayat ke 9), dan Assaabiquunas-saabiquun (yang paling dahulu beriman. ayat ke 10). Golongan yang terakhir lah golongan yang terbaik.

Berdasarkan cara penghisaban, juga terdapat tiga golongan. Untuk golongan yang baik, dihisab dengan mudah tanpa rinci. Dan untuk golongan yang buruk, dihisab dengan hisab yang detail dan buruk. Terakhir adalah golongan yang terbaik, yaitu yang masuk surga tanpa hisab.

Terdapat dalam Riyadush-Sholihin Bab Yakin dan Tawakal, hadits riwayat Ibnu Abbas yang ringkasnya seperti berikut:

“Rasulullah saw bersabda: “…Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah saw. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah saw. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal….” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya ketika dihadirkan hadits tentang hisab tanpa rinci untuk orang mukmin, itu sudah sangat melegakan kita. Karena apabila dirinci perbuatan kita, maka akan kita temui kedurhakaan-kedurhakaan yang besarnya tidak sebanding dengan amal baik yang kita lakukan. Tapi semua termaafkan oleh rahmat dan ampunan Allah SWT.

Adanya kabar tentang sekelompok orang yang masuk surga tanpa hisab, patut menjadi motivasi untuk kita. Bobot amalan kita dipengaruhi oleh motivasi. Oleh karena itu, jangan pesimis memandang hadits tersebut. Kalau timbul keraguan dan pertanyaan apakah kuota tujuh puluh ribu seperti yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut sudah penuh atau belum, mengingat kita hidup di akhir zaman dan telah berlalu berjuta umat muslim sebelum kita? Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Allah karena Allah yang mengetahui. Keraguan tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menggugurkan hadits tersebut menjadi motivasi kita. Berbuatlah sebatas kemampuan kita.

Agar hisab mudah, Umar bin Khattab r.a. sudah memberikan tips dengan ucapannya yang terkenal “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyi dari kalian.”

Muhasabah adalah sarana yang ampuh untuk memperbaiki diri.

Juga ada do’a yang diajarkan oleh Rasulullah dengan redaksi hadits yang berbunyi:

“Aku mendengar Rasulullah saw berdoa di dalam sebagian sholatnya: “Allahumma haasibnii hisaaban yasiiroo” (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”).

Setelah Nabi saw beranjak, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu hisab yang mudah?” Nabi saw menjawab “Buku catatan amalnya dilihat lalu dilewati begitu saja. Barangsiapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia binasa” (HR Ahmad).

Semoga Allah memudahkan kita pada amalan yang memasukkan kita pada golongan orang yang masuk surga tanpa hisab.

Allahu’Alam bish-showab.

 

Memaafkan

memaafkan

Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS 2:30)

Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.

Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. “Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS 67:2).

Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.” (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS 2:179)

Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi. “Berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT” (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).

Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43).”

Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.

Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.

Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan. “Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya.”

Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.

Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.

Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.

Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari – Muslim)

Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.

Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS 41:34)

Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari “homo homini lupus”.

 

Perbuatan Aneh Di Kala Jam Istirahat

Sholat Dhuha

Lagi-lagi orang itu. Tiap jam istirahat pertama, pukul 09.30 WIB, orang itu selalu terlihat berjalan menuju musholla sekolah, kemudian melepas sepatunya di teras dan mengenakan bakiak lalu berjalan ke tempat air wudhu’. Hal yang ganjil. Karena hanya dia yang melakukan aktifitas itu sementara yang lain sibuk bermain basket di lapangan atau pergi ke kantin.

Saya kini berani mendekat ke arahnya, dan ingin menanyakan tentang aktifitas anehnya itu. Sebelumnya tidak berani karena saya tak mengenalnya. Nanti disangkanya SKSD (sok kenal sok dekat). Tapi semenjak hari ahad kemarin, saat saya mengantarkan ibu ke acara arisan keluarga, saya mulai mengenal orang aneh itu. Rupanya kami punya hubungan saudara.

“Oh SMA seratus dua? Anak saya juga sekolah di sana. Tapi dia kelas dua sekarang. Kakak kelas kamu. Hepiii.. Sini! Kenalin adik kelas kamu.” Masih terngiang ucapan ibunya. Dan sejak itu saya tahu nama orang yang sering saya perhatikan itu adalah Hepi. Hubungan kami? Dia adalah kakak sepupu dari iparnya mertuanya pamannya cucunya buyutnya rekan kerjanya om saya. Agak rumit memang.

Kini saya berada di belakang Kak Hepi (harus memanggil kak! Dia lebih tua) yang sedang mengambil air wudhu’. Sejenak kemudian ia selesai membasuh kakinya, dan berbalik arah.

“Kak Hepi mau sholat?”

Ia terkejut melihat saya. “Oh kamu Ndri. Iya nih mau sholat. Mumpung istirahat”

“Emangnya shubuh masih ada jam segini?”

“Ya enggak lah. Ini gak lagi mau sholat subuh kok.”

“Terus sholat apa?”

“Dhuha.”

Saya mengernyitkan dahi.

“Pernah dengar sholat dhuha? Atau surat Adh-dhuha?” Tanyanya.

“I.. i.. iya pernah.” Jawab saya.

“Jam segini ini disebut waktu dhuha. Dari setelah matahari terbit sampai beberapa saat akan masuk zhuhur. Ada sholat sunnat, namanya sholat dhuha. Pernah dengar kan? Tau kan surat Adh-Dhuha?” Ia memberi penjelasan.

“Surat Adh-Dhuha pernah denger sih kak.”

“Hafal?”

“Nggak.”

“Kamu hafalnya surat apa aja?”

“Al-Fatihah, Qulhu, sama Wal Ashri.”

“Lho? Kamu sholatnya pake surat itu-itu aja?”

“Ya gak apa-apa lah kak. Yang penting kan hatinya bersih.” Jawab saya. Iya doong.. yang penting hatinya dooong…

****

“Udah lu tanyain, Ndri?”

Saat masuk kelas, saya langsung ditodong pertanyaan oleh teman-teman saya yang juga sejak lama memperhatikan kebiasaan Hepi. Tadi saat saya mendekati Hepi dan menginterogasi kebiasaannya itu, teman-teman saya yang punya jiwa kepo yang sama mengintip dari jendela kelas.

“Udah. Sholat sunnat Dhuha katanya. Baru denger gw. Eh.. kayaknya pernah denger sih. Tapi aneh aja lah. Gak lazim.”

“Iya kok cuma dia sendiri yang sholat. Rajin amat ya?” Timpal teman saya.

“Emang sholatnya ada berapa?” Tanya seorang yang laen.

“Hah? Maksudnya?” Saya balik bertanya.

“Kok itu dua. Emang ada yang satu, ada yang tiga?”

“DHUHAAAAA…” teman yang ini memang sering memancing kekesalan. Lucu enggak, nyebelin iya.

“Dhuha itu apa?” Tanya yang lain.

Dan sebelum saya sempat menjawab, ada penjelasan dari Feri, anak berkacamata yang kutu buku. “Ibu kota Negara Qatar.”

“Lhaa… Itu kan Doha.” Jawab saya.

“Iya.. Dhuha, Doha. Sama.” Jawabnya percaya diri.

“Tapi kata kak Hepi, Dhuha itu waktu antara setelah matahari terbit sama beberapa sebelum zhuhur deh.”

“Iya bener. Nih jawaban google. Waktu ketika matahari sepenggalan naik.”

Hendy! Dia benar-benar IT Literate. Kemana-mana tak lepas dari gadgetnya, dari smartphone blackberry, Iphone, hingga Karce (entah buat apa kalkulator itu). Jawabannya telak, menumpas kesotoyan akut si Feri yang kutu buku itu. Mana mungkin Feri mendebat google?

“Tapi kenapa cuma dia sih yang ngerjain? Kali dia aliran apaaa gitu ya. Aliran sesat kali ya?”

“Hah? Aliran sesat? Eh, dia anak Rohis ya?”

“Iya. Kata temen gw dia anak Rohis.”

“Hati-hati bro! Kata katro tipi, Rohis itu bibit teroris. Pantesan aja kelakuannya aneh-aneh. Yang laen gak sholat, dia malah sendirian sholat Dhuha.”

“Sholat Dhuha itu memang ada. Ga aneh lah kalo ada orang yang Sholat Dhuha. Malah bagus. Pada baru denger ya?” Kali ini terdengar suara Hasan, yang sejak tadi sibuk mengerjakan PR yang belum sempat dibuatnya di rumah. Tidak sempat bergabung dengan pembicaraan orang-orang penasaran ini.

“Baru denger, San. Beneran.”

“Coba tanya sama guru ngaji kalian deh!” Solusi dari Hasan.

“Guru ngaji? Siapa ya? Gw ga punya, San.”

“Gw juga ga punya, San. Dulu waktu masih kecil waktu ikut TPA sih punya. Sekarang enggak.”

“Penasehat spiritual maksud lu, San? Gw juga ga punya. Kalo guru balet punya.”

Orang-orang serempak memandang ke arah Feri. Pengakuan yang mengejutkan. Rupanya selain kutu buku, dia juga….

“Ya udah, ya udah, ya udah… Entar kita tanya bu Sum, guru agama.” Ujar Hasan.

*****

“Oooh sholat dhuha. Itu memang sholat sunnat yang diajarkan oleh Rasulullah.” Bu Sum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang di antara muridnya, tentang sholat dhuha, setelah ia menerangkan materi pelajaran kepada siswa di kelas. “Sholat Dhuha itu kalau dikerjakan, bisa mendatangkan rezeki lho buat kita. Kalian harusnya rajin mengerjakan sholat sunnat, biar diberi rezeki berupa nilai yang bagus.”

“Waktunya kapan bu?”

“Sejak setelah matahari terbit, hingga beberapa saat sebelum matahari terbenam.”

Jawabannya sama persis!! Persis dengan penjelasan Hepi.

“Jadi beneran ada ya bu? Tapi kok jarang yang ngerjain?”

“Naah itu dia masalahnya. Sholat Dhuha itu memang ada. Banyak manfaatnya. Tapi umat Islam sekarang ini jauh dari contoh kehidupan Rasulullah. Saat ada yang mencoba mengikuti Rasulullah, malah dibilang aneh. Itu tadi karena sedikit yang mengamalkan.”

“Bu Sum juga gak pernah saya liat Sholat Dhuha di mushola.” Daaarr… Suara seorang siswa putri. Telak seperti menampar pipi Bu Sum yang mengangguk-angguk, grogi, terlihat berfikir, dan tak bisa berkata apa-apa.

“Iya bu. Kalau bu Sum rajin Sholat Dhuha, kan rezeki Bu Sum lancar. Bude Lastri gak akan sering ibu utangin kalo Bu Sum jajan di kantin.”

Alamaaaak… ini terlalu vulgar. Lagi-lagi si Feri. Temannya yang duduk di sebelahnya terlihat menepuk jidat. Siswa lain yang duduk di depannya menggeleng-gelengkan kepala. Siswa lain ada yang mulutnya menganga dengan tatapan terperangah ke arah Feri. Betapa beraninya dia.

“Iya. Mulai besok kita coba rutin untuk Sholat Dhuha. Untuk kelas ini, akan ibu absen siapa saja yang Sholat Dhuha. Ada penambahan nilai.”

Aduh, saya kurang setuju. Kenapa pula ibadah harus diiming-imingi nilai. Yang penting kan hatinya.

*****

Kini musholla sekolah saya ramai diisi orang-orang yang Sholat Dhuha tiap jam istirahat tiba. Tidak cuma siswa dari kelas saya, tapi juga siswa kelas lain. Terutama kelas tiga yang sebentar lagi menghadapi ujian nasional.

Memang awal yang meramaikan adalah kelas saya karena mencari nilai. Tapi kemudian pembicaraan Sholat Dhuha ini terus menyebar, hingga semakin banyak yang melakukan.

Kini Sholat Dhuha tidak lagi menjadi misteri. Semua guru agama sudah menjelaskan tentang keutamaan Sholat Sunnat Dhuha saat mereka mengajar. Anak-anak mengerti. Yang merasa butuh mendekati Tuhannya, ia akan mengerjakan sholat sunnat itu.

Andai saja Hepi tidak berani menjadi pelopor kebaikan karena takut dianggap aneh, atau takut dituding teroris oleh orang-orang yang termakan isu katro tipi, mungkin pelaku Sholat Dhuha tidak akan sebanyak sekarang. Tapi Hepi berani menjadi nomor satu yang memulai kebiasaan baik yang harusnya ada pada setiap muslim.

Itulah kunci bila kebaikan ingin tersebar di bumi ini. Harus ada yang berani mempeloporinya. Harus ada yang tidak takut dibilang aneh. Seperti Hepi.
20 Oktober 2012

 
1 Comment

Posted by on June 16, 2015 in Puisi dan Cerpen