RSS

Olok-Olok dan Provokasi, Watak Munafik dan Yahudi

27 Jun

Provokasi

Kaum Munafik dan Yahudi dipertemukan pada karakter-karakter yang mirip. Salah satunya adalah sifat doyan memprovokasi dan mengolok-olok. Siroh nabawiyah mencatat kejadian-kejadian di mana orang Yahudi dan Munafik – yang mana Rasulullah bersinggungan dengan kedua kelompok ini di Madinah – melancarkan aksi ejek dan provokasinya.

Aksi ejek yang dicatat oleh Qur’an adalah saat kaum Yahudi mengatakan “Ru’unah” (bodoh sekali) sebagai plesetan dari ucapan “Raa’ina” (perhatikanlah kami) yang biasa para sahabat ucapkan kepada Rasulullah. (Lihat QS 2:104 dan 4:46). Aksi ejek ini Allah counter dengan perintah mengganti panggilan Raa’ina dengan Unzhurna.

Yahudi juga mengejek umat Islam dengan “Assamu’alaikum” yang berarti “Semoga kematian menimpa kalian”, memplesetkan ucapan salam milik Islam: “Assalamu’alaikum.” Oleh karena itu umat Islam diperintahkan menjawab salam mereka dengan mengucapkan “wa’alaikum” yang artinya “Dan juga menimpa kalian,” dan ucapan kita terhadap mereka dikabulkan oleh Allah sedangkan ucapan buruk mereka terhadap kita tidak dikabulkan.

Ejekan kaum munafiq tak kalah menyebalkan. Bahkan terhadap sahabat yang bersedekah, tak luput dari ejekan mereka. Yang bersedekah terang-terangan mereka tuduh riya’. Yang bersedekah sedikit – padahal seorang sahabat yang miskin sampai bekerja lembur agar bisa bersedekah walau sedikit – mereka ejek pelit.

Dari Abu Mas’ud `Uqbah bin `Amr Al Anshary Al Badry ra. berkata: “Ketika diturunkan ayat tentang sedekah kami memanggul apa yang akan kami sedekahkan di atas punggung kami; ada seseorang yang datang dengan membawa harta sebanyak-banyaknya untuk disedekahkan, kemudian orang-orang munafik mengatakan bahwa orang itu riya’ (ingin dipuji). Dan ada pula orang lain yang sedekah hanya satu gantang, kemudian orang-orang munafik mengatakan: “Sesungguhnya Allah itu tidak membutuhkan kalau hanya satu gantang”. Kemudian turunlah ayat yang artinya: “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mengejek orang-orang mukmin yang suka rela di dalam bersedekah dan orang-orang yang tidak dapat bersedekah kecuali dengan sekuat tenaga (At-Taubah : 79)”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tak jarang aksi ejek dan provokasi ini berujung pada pukulan yang teramat dahsyat pada kaum munafik dan Yahudi. Ada provokasi yang harus dibayar dengan pengusiran. Ada ejekan yang untuk menebus maaf Rasulullah, orang munafik sampai bergelantungan di pelana unta Rasulullah dan kakinya terhantam oleh kerikil-kerikil jalanan. Begitulah bayaran untuk para pencela.

Kisahnya seperti berikut: Ketika Perang Tabuk, seorang laki-laki berkata dalam suatu majlis: “Kami tidak pernah melihat seperti para qurro’ (para pembaca Al-Qur’an) kita, yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya (paling banyak makan), paling penakut ketika bertemu musuh”. Yang mereka maksudkan adalah Rasulullah shollallohu ‘alaihi was salam dan para sahabatnya.

Bersama mereka ada seorang pemuda dari kalangan sahabat. Dia marah dengan ucapan ini dan berkata “Dusta engkau! Engkau adalah seorang munafiq! Sungguh aku akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“

Kemudian ia pergi untuk menyampaikan apa yang diucapkan kaum tersebut kepada Rasulullah saw. dan dia mendapati wahyu telah turun mendahuluinya. Maka datanglah mereka (kaum yang mengolok-olok) kepada Rasulullah untuk meminta maaf tatkala mereka mengetahui bahwa Rasulullah saw. telah mengetahui apa yang terjadi pada majelis mereka.

Dan berdirilah salah satu dari mereka bergantungan di tali pelana unta Rasulullah dalam keadaan beliau mengendarainya, dan kaki orang itu tersandung batu. Orang tersebut berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang tentang cerita perjalanan,untuk menghilangkan kepenatan safar, Tidak ada maksud dari kami untuk mengolok-olok, kami sekedar bersenda gurau,” Dan Rasulullah tidak menoleh sedikitpun kepadanya, maka Allah Ta’ala menjawabnya dengan menurunkan :

“Seandainya engkau tanyai mereka tentu mereka akan mengatakan , hanyasannya kami hanya bergurau dan bermain-main “.(QS. At Taubah : 65).

Itulah tamparan bagi kaum munafik atas ejekannya.

Keadaan lebih parah dialami oleh kaum Yahudi. Kaum Yahudi Bani Qunaiqa’ sampai harus mengalami pengusiran karena provokasi dan tindakan lancangnya kepada umat muslim.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far bahwa seorang perempuan Arab datang membawa perhiasannya ke pasar Yahudi Bani Qainuqa. Ia mendatangi tukang sepuh (Yahudi) untuk menyepuh perhiasannya. Sambil menunggu tukang sepuh menyelesaikan pekerjaannya, ia pun duduk. Tiba-tiba datang sekelompok pemuda Yahudi ke dekatnya seraya memintanya untuk membuka penutup wajahnya. Tentu saja perempuan itu menolak.

Namun tanpa diketahuinya, si tukang sepuh itu kemudian secara diam-diam menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi tubuh perempuan itu ke bagian punggungnya. Akibatnya, tatkala ia berdiri, tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Orang-orang Yahudi itu pun tertawa terbahak-bahak. Secara spontan perempuan tersebut kemudian menjerit meminta tolong. Mendengar jeritan itu, salah seorang Muslim yang ada di pasar tersebut segera menyerang tukang sepuh itu dan membunuhnya. Namun orang-orang Yahudi tadi berbalik membunuh pemuda Muslim tadi.

Rasulullahpun segera memerintahkan para sahabat untuk mengepung perkampungan bani Qainuqa. Saat itu hari sabtu pada pertengahan Syawal 2H. Pengepungan berjalan selama lima belas hari hingga muncul hilal bulam Dzul-Qa’dah. Karena ketakutan, orang-orang Yahudi tersebut akhirnya menyerah. Mereka pasrah terhadap hukuman yang bakal diputuskan Rasulullah. Dalam keadaan itulah tiba-tiba datang Abdullah bin Ubay seraya berkata:

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“

Melihat Rasulullah tidak mengacuhkannya, pemuka Madinah inipun mengulang lagi perkataannya beberapa kali hingga akhirnya dengan wajah merah menahan kemarahan, Rasulullahpun menjawab ketus: “Celaka engkau, tinggalkan aku!“.

Namun Abdullah bin Ubay tetap bersikeras : “Tidak, demi Allah, aku tidak akan melepaskan anda sebelum anda mau memperlakukan para sahabatku itu dengan baik. Empat ratus orang tanpa perisai dan tiga ratus orang bersenjata lengkap telah membelaku terhadap semua musuhku itu, apakah hendak anda habisi nyawanya dalam waktu sehari? Demi Allah, aku betul-betul mengkhawatirkan terjadinya bencana itu!“.

Mendengar itu Rasulullah akhirnya berkata: “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini!”.

Maka pergilah orang-orang Yahudi Banu Qainuqa‘ meninggalkan Madinah menuju sebuah pedusunan bernama ‘Adzara‘at di daerah Syam. Namun belum berapa lama orang-orang ini menetap disana, terdengar kabar bahwa sebagian besar dari mereka mati ditimpa bencana.

Selain provokasi Bani Qunaiqa’, juga ada provokasi dari Bani Nadhir yang hendak membunuh Rasulullah saat Rasulullah dan para sahabat duduk di pinggir tembok salah satu rumah di perkampungan Bani Nadhir. Mereka berniat menimpakan batu penggiling dari atas rumah kepada Rasulullah. Tapi Jibril memberitahu Rasulullah sehingga beliau saw. terselamatkan dari bencana. Provokasi ini berujung pada pengusiran dan kisah ini dicatat di dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr.

Provokasi dan cemoohan zaman sekarang tak kalah sadis. Dari penghinaan oleh Salman Rusydi sampai karikatur Nabi. Di dalam negeri, olok-olok kepada Nabi dicover dengan klaim intelektual. Seorang intelektual palsu pernah membuat tulisan yang mengajak umat Islam agar mengkritisi Rasulullah. Cemoohan yang lebih dahsyat saat seseorang berani mengatakan Al-Qur’an itu kitab porno.

Masih ingatkah kita dengan kelakuan sekelompok orang yang menyebut diri sebagai AKKBB pada tanggal 1 Juni 2008, yang mengubah rute demonstrasinya ke arah Monas karena ada kelompok masa dari FPI yang berunjuk rasa menolak Ahmadiyah di tempat yang sama? Itu lah provokasi, watak yang diwariskan oleh Yahudi dan Munafiqun.

Umat Islam sekarang tak punya kekuatan untuk memberi pelajaran pada kaum yang suka mengolok-olok dan memprovokasi. Tapi kekuatan itu akan dibangkitkan oleh “generasi pengganti” yang tak takut oleh celaan orang yang suka mencela (lihat QS Almaidah 54). Pastikan bahwa kita termasuk bagian dari generasi pengganti!!

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: