RSS

Dialektika Memperkuat Keimanan

19 Jun

dialog

Manusia selaku makhluk sosial tentu berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Dan dalam interaksi itu, tak jarang terjadi konflik atau minimal beradu pendapat antar sesama manusia. Wajar, karena tiap insan memiliki latar belakang berbeda-beda dan pola pikir yang tak sama.

Dalam tataran makro, selisih pendapat ini bahkan sudah menjadi persaingan pemikiran dan ideologi maupun agama di tengah peradaban manusia. Antara ideologi buatan manusia terjadi perdebatan panjang yang melibatkan para pendukungnya. Kapitalisme beradu dengan komunisme, beradu pula dengan sosialisme. Orang filsafat memperkenalkan istilah tesis – antitesis – sintesis. Maksudnya pergulatan pemikiran-pemikiran itu tak jarang menghasilkan pemikiran baru yang menengahi kedua kutub yang diperdebatkan.

Perdebatan soal agama pun tak kunjung usai. Islam mengklaim bahwa hanya agama inilah yang diterima di sisi Allah swt, seraya mengingkari agama selainnya. Kristen pun punya konsep sendiri yang juga mengingkari agama lainnya. Begitu juga agama lain, mengingkari ajaran selain ajaran agama itu. Istilah kafir, non believers, dan sebagainya adalah term yang lumrah dipakai dalam pembicaraan keagamaan yang bersinggungan dengan teologi atau aqidah.

Ini adalah kenyataan yang tidak bisa ditutupi dengan kebohongan dan penipuan lewat istilah pluralisme agama.

Sesungguhnya perdebatan-perdebatan ini justru akan melahirkan seorang ulul albab, orang yang menggunakan akal pikirannya untuk mendekat diri kepada Allah swt. Perdebatan ini akan memperkuat keimanan kepada Allah swt karena hati yang bersih akan melihat dengan jelas mana argumentasi yang haq dan mana yang bathil.

“Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al Israa’ :81)

Seorang yang memiliki hati yang bersih tentu akan menemukan keadilan dalam konsep ekonomi Islam. Ketika dikomparasikan dengan konsep ekonomi kapitalis yang menghalalkan riba, akan terlihat jelas kekuatan sistem yang diturunkan oleh Allah swt yang mengutamakan keadilan. Ketika dikomparasikan dengan konsep komunis yang tak mengenal kepemilikan individu, makin terlihat jelas bahwa Islam sangat menghargai hak-hak dasar seorang manusia.

Kasus yang sedang hangat adalah soal miss world. Kita melihat bahwa orang-orang yang memahami Islam akan menolak acara miss world. Sedang mereka yang tak mengenal Islam akan mendukung acara ini.

Rupanya argumen penolak acara miss world sangat manusiawi. Mereka menolak wanita dijadikan bahan eksploitasi sebagai sarana pemuan nafsu laki-laki. Akan ditemukan bahwa argumen ini lahir dari prinsip keadilan dan egaliter, bahwa pria dan wanita memiliki derajat yang sama. Dari pro kontra acara miss world ini semakin terlihat keindahan Islam.

Konflik dan dialektika memang tidak akan bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Pluralisme agama, ajaran yang menipu itu terdengar manis karena seolah menghindari perselisihan ini. Namun sesungguhnya perdebatan itu baik, dan sengaja Allah setting adanya perdebatan itu agar semakin terlihat keindahan Islam bagi orang yang memiliki akal dan berhati bersih. Dan itu adalah ciri ulil albab…

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (ulul albab)” ( QS. az-Zumar 39:18 )

3 September 2013

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: