RSS

Hisab

18 Jun

hisab

Allah berfirman dalam surat Al-Insyiqaq :“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” (Al-Insyiqaq : 7-8).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini: “Maksudnya ia akan dihisab dengan lancar dan tanpa kesulitan. Seluruhnya amalnya tidak akan diperiksa secara teliti. Sebab orang yang dihisab secara teliti, pasti binasa. “

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dihisab dengan rinci, ia pasti disiksa.” ‘Aisyah berkata, “Bukankah Allah telah berfirman : “Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” Beliau menjawab, “Itu bukan berarti dihisab, tetapi hanya diperlihatkan amalnya. Barangsiapa hisabnya dirinci pada hari kiamat, ia pasti disiksa.” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh beruntung orang mukmin yang dihisab dengan mudah tanpa dirinci. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan orang kafir.

“…Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS 13 : 18)

“Hari penghisaban membuat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang merugi dan yang beruntung. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), “(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),” (QS 56 : 3).

Selanjutnya orang-orang yang beruntung itu Allah bagi lagi menjadi dua bagian, hingga terdapat tiga kelompok seperti yang disebutkan pada surat Al-Waaqi’ah ayat ke 7, “dan kamu menjadi tiga golongan”. Golongan pertama adalah Ashabul Maymanah (golongan kanan, ayat ke 8) , Ashabul Masy’amah. (golongan kiri, ayat ke 9), dan Assaabiquunas-saabiquun (yang paling dahulu beriman. ayat ke 10). Golongan yang terakhir lah golongan yang terbaik.

Berdasarkan cara penghisaban, juga terdapat tiga golongan. Untuk golongan yang baik, dihisab dengan mudah tanpa rinci. Dan untuk golongan yang buruk, dihisab dengan hisab yang detail dan buruk. Terakhir adalah golongan yang terbaik, yaitu yang masuk surga tanpa hisab.

Terdapat dalam Riyadush-Sholihin Bab Yakin dan Tawakal, hadits riwayat Ibnu Abbas yang ringkasnya seperti berikut:

“Rasulullah saw bersabda: “…Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah saw. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah saw. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal….” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya ketika dihadirkan hadits tentang hisab tanpa rinci untuk orang mukmin, itu sudah sangat melegakan kita. Karena apabila dirinci perbuatan kita, maka akan kita temui kedurhakaan-kedurhakaan yang besarnya tidak sebanding dengan amal baik yang kita lakukan. Tapi semua termaafkan oleh rahmat dan ampunan Allah SWT.

Adanya kabar tentang sekelompok orang yang masuk surga tanpa hisab, patut menjadi motivasi untuk kita. Bobot amalan kita dipengaruhi oleh motivasi. Oleh karena itu, jangan pesimis memandang hadits tersebut. Kalau timbul keraguan dan pertanyaan apakah kuota tujuh puluh ribu seperti yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut sudah penuh atau belum, mengingat kita hidup di akhir zaman dan telah berlalu berjuta umat muslim sebelum kita? Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Allah karena Allah yang mengetahui. Keraguan tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menggugurkan hadits tersebut menjadi motivasi kita. Berbuatlah sebatas kemampuan kita.

Agar hisab mudah, Umar bin Khattab r.a. sudah memberikan tips dengan ucapannya yang terkenal “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyi dari kalian.”

Muhasabah adalah sarana yang ampuh untuk memperbaiki diri.

Juga ada do’a yang diajarkan oleh Rasulullah dengan redaksi hadits yang berbunyi:

“Aku mendengar Rasulullah saw berdoa di dalam sebagian sholatnya: “Allahumma haasibnii hisaaban yasiiroo” (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”).

Setelah Nabi saw beranjak, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu hisab yang mudah?” Nabi saw menjawab “Buku catatan amalnya dilihat lalu dilewati begitu saja. Barangsiapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia binasa” (HR Ahmad).

Semoga Allah memudahkan kita pada amalan yang memasukkan kita pada golongan orang yang masuk surga tanpa hisab.

Allahu’Alam bish-showab.

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: