RSS

Hadits Ruwaibidhoh Buat Siapa?

11 Jun

komentator

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan; pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani).

Kita temukan potret kenyataan kondisi masyarakat saat ini yang dikerubungi cerita-cerita pencitraan yang manis namun rapuh. Beberapa kali media menyanjung-nyanjung seorang tokoh media darling, namun berkali-kali juga masyarakat tertipu.

Paska lengsernya Suharto, para pejuang asli reformasi rupanya harus tertutup citranya oleh seorang wanita anak mantan Presiden yang tidak jelas upayanya dalam memperjuangkan reformasi. Namun entah pesanan siapa, tiba-tiba berbagai media yang menemukan ruang bebasnya saat itu mengangkat-angkat nama wanita pimpinan partai sekuler yang fotonya beredar dengan pose sedang sembahyang di sebuah kuil Hindu di Bali. Dan saat para ustadz dan kiai memperingatkan umat untuk memilih pemimpin yang bersih aqidahnya, umat Islam Indonesia cuek dan partai sekuler pimpinan wanita itu menang dengan raihan sekitar 33% pada pemilu 99.

Sempat gagal menjadi presiden, akhirnya wanita itu berhasil menjadi orang pertama di Indonesia. Dan cerita manis media tinggal lah cerita. Di kepemimpinannya, berbagai asset milik rakyat Indonesia dijual kepada orang asing. Sebuah bentuk pengkhianatan kepada rakyatnya. Dan tak ada cerita kesuksesan terdengar di penghujung kepemimpinannya.

Itulah sebuah cerita media darling, tokoh berbalut pencitraan. Dan “tahun-tahun penipuan” (seperti dalam redaksi hadits di atas), terus terjadi di negeri ini berupa cerita dengan tema media darling, tokoh berbalut pencitraan, yang berkhianat namun dipercaya. Dan tanpa dielaborasi lebih jauh dalam tulisan ini, saya yakin pembaca mengerti mana saja tokoh yang dilumur pencitraan namun sejatinya punya cerita pengkhianatan kepada rakyat Indonesia, khususnya umat Islam.

Di sisi lain, pasca terbukanya keran kebebasan berbicara yang sempat dibungkam oleh penguasa tiran Suharto, masyarakat Indonesia terbiasa berbicara kritis soal sosial, politik, hankam, budaya, dan banyak tema lain yang dulu tidak bebas dibicarakan. Pengamat mengatakan, “rakyat sudah pintar.” Meski susah dibedakan mana kritik mana hujat, kita temukan di internet pada kolom-kolom komentar berita sebuah portal, atau di status-status jejaring sosial: kritik dan hujatan masyarakat sudah semakin cadas. Apa pun dikomentari.

Namun dari mana input masyarakat untuk berkomentar? Seolah kita tidak bisa menuntut masyarakat untuk tidak berbicara tanpa ilmu. Tidak bisa meminta masyarakat untuk lebih banyak membaca buku daripada sepotong artikel kejar tayang dari sebuah portal berita mainstream di internet, yang pimpinan redaksinya telah bergelimpangan “uang sogokan” untuk menyetir pemberitaan dan menyanjung tokoh tertentu.

Begitulah, masyarakat Indonesia terbiasa mengomentari apa pun dari sepotong berita tak utuh, tanpa punya pengetahuan yang cukup. Dan mereka ini punya “campur tangan” pada urusan mereka dalam event pemilu atau pilkada.

Dan sebuah potret lain adalah bangkitnya kesadaran berislam masyarakat Indonesia. Di antara mereka juga banyak yang punya keberpihakan pada umat Islam. Isu-isu keislaman dari penolakan ajang maksiat, sistem pemerintahan yang bersih dan Islami, hingga kerinduan munculnya pemimpin yang Islami begitu kuat. Orang-orang itu, seperti layaknya masyarakat Indonesia, juga mengomentari apa saja yang terjadi di Indonesia dan dunia ini. Mungkin kadang mereka tergelincir karena berbicara tanpa ilmu, tapi orang-orang itu pada dasarnya punya keinginan kuat menuntut ilmu. Mereka orang-orang yang terbiasa menyandarkan dirinya pada Al-Qur’an dan hadits, serta qoul ulama.

Kini beredar hadits tentang Ruwaibidhoh, yang Rasulullah definisikan dengan “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” Seorang thulab (penuntut ilmu) pernah melarang teman-temannya yang punya perhatian pada dunia Islam agar tidak berbicara politik. Alasannya tadi, nanti jadi orang ruwaibidhoh. Dan kata ruwaibidhoh ini tiba-tiba menjadi sebuah vonis tersendiri yang didakwakan oleh para thulab kepada orang-orang yang berbicara politik, yang mengkritik kebijakan pemerintah, yang punya perhatian pada dunia Islam, yang marah pada raja-raja Arab, dan sebagainya.

Orang-orang yang dituduh Ruwaibidhoh itu padahal menghindar dari keadaaan yang diterangkan dalam hadits: “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, bukan dari golonganku.” Umat Islam adalah satu darah, satu kesatuan jasad. Pembelaan mereka kepada umat Islam dan agenda-agenda Islam adalah karena kecintaan pada agama, karena kesadaran bahwa Islam adalah solusi, karena merasakan sakit atas apa yang diderita saudaranya di belahan bumi yang lain. Bukan karena kebodohan tertipu pencitraan.

Dalam hadits di atas, mention atas Ruwaibidhoh berada pada rangkaian “pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat.” Ini adalah indikasi atas orang-orang yang mudah percaya atas sanjungan media mainstream fasik kepada tokoh-tokoh yang tidak punya perhatian pada umat Islam. Orang-orang ini punya campur tangan pada event pilkada dan pemilu, dan minimal pada penyebaran opini di obrolan offline maupun online. Cerita kebohongan tentang pendusta dan pengkhianat yang disanjung ditelan begitu saja oleh para Ruwaibidhoh yang rajin berkomentar atas apa saja fenoena yang ditemukannya.

Harusnya orang-orang yang punya kepedulian kepada Islam diselamatkan dari tuduhan Ruwaibidhoh ini. Karena bila orang-orang yang memperjuangkan Islam – dengan berbagai upayanya baik penyebaran opini di dunia maya maupun aksi di dunia nyata – ini dibungkam, akan semakin merajalela-lah kelompok liberal sekuler dengan agenda-agendanya di dunia politik.

Kalau lah ada orang yang punya perhatian pada Islam namun melakukan kesalahan, maka kesalahan itu wajar sebagaimana manusia biasa. Nasehat yang baik lebih berhak mereka dapatkan daripada tuduhan Ruwaibidhoh. Aktif memusuhi orang-orang itu berarti memberi jalan leluasa pada kelompok liberal sekuler untuk memangsa umat Islam yang sudah seperti buih di lautan.

Allahua’lam bish-showab.

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: