RSS

Saat Akal Si Kecil Sudah Sampai

10 Jun

ayah bersama anak remajanya

Alya tiba-tiba bersikap serba salah. Saat sedang bersama orang tuanya mengunjungi rumah sanak famili dalam acara keluarga besar, Alya tiba-tiba menarik diri, hilang fokus, dan sedikit ketakutan. Sikap anak berusia 11 tahun dan masih duduk di bangku kelas 6 SD ini ditangkap oleh ibunya. Interogasi pun dimulai.

Ada apa? Rupanya Alya mendapatkan menstruasi pertama kali. Ibunya Alya hidup di zaman modern. Andai ia hidup setidaknya sekitar 80 tahun yang lalu, tentu akan langsung terpikirkan pernikahan untuk anak sebelia itu. Zaman terlalu cepat berubah, hanya terpaut beberapa puluh tahun, usia standard layak menikah tiba-tiba berubah.

Tapi di lain itu, Neng Alya kini sudah mulai dicatat amalannya dan harus berhadapan dengan pahala dan dosa. Di usia sebelia itu, dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Kenyataan ini yang tak bisa diubah oleh zaman.

Ada pihak-pihak yang menggugat kata remaja dimasukkan dalam pengkategorian seseorang berdasarkan umur. Alasannya, Islam tidak mengenal remaja. Islam hanya mengenal 2 kategori: Belum baligh, atau sudah baligh. Alasannya lagi, kategori remaja diperkenalkan oleh psikolog barat dan bisa mengaburkan pandangan tentang syariat. Hmm.. Silakan dipertimbangkan protes itu.

Pro atau kontra atas pandangan tadi, memang sudah menjadi realita bahwa para orang tua saat ini tidak terlalu peduli dengan masa aqil baligh seorang anak. Aqil baligh, yang ditandai dengan mulai masuknya kewajiban mandi wajib bagi seseorang, memiliki makna leksikal “sudah sampai akalnya.” Karena itu, menjadi otomatis bila seorang anak mimpi basah (bagi pria) atau mendapatkan menstruasi (bagi wanita), anak itu dibebankan syariat-syariat Islam yang harus dijalankannya secara kaffah, baik syariat individu (seperti sholat, puasa, bahkan zakat); hingga syariat yang berkaitan dengan muamalah (seperti menyambung silaturahim, berdakwah, hingga… aturan-aturan dalam pernikahan).

Di masa aqil baligh, saat seorang anak berhadapan dengan 2 pilihan dalam aktivitasnya: dosa atau pahala, sangat berhak untuk diberikan pembekalan oleh orang tuanya tentang ajaran-ajaran Islam secara utuh (lihat QS 2:208). Ini bukan soal sekedar memberikan pemahaman tentang apa fungsi sperma atau mengapa sel telur harus dilepas sebulan sekali. Atau hanya bekal tatacara mandi wajib. Sangat penting bagi orang tua menyadari bahwa sang anak sudah memasuki usia layak untuk berjuang bagi dirinya sendiri.

Di usianya memasuki aqil baligh, sesungguhnya seorang anak butuh diajarkan metode yang tepat untuk menentukan baik dan buruk. Poin-poin norma benar-salah mungkin sudah diajarkan dan dihafal oleh anak sedari kecil. Tapi saat di usianya, ia akan menemukan kasus-kasus yang harus secara cermat ia pertimbangkan dan selesaikan. Periksalah, apakah ia punya metode sederhana untuk menyikapi suatu persoalan. Bila orang tuanya mengerti kaidah fiqh, lebih hebat lagi bila bisa diajarkan secara aplikatif.

Kita memang hidup dalam kultur yang berbeda dengan beberapa puluh tahun yang lalu. Namun yakinkah bahwa zaman ini lebih baik karena ada pandangan seorang anak remaja harus bebas dari tugas mencari nafkah? Bila tugas itu menghalangi waktu belajarnya, memang tidak baik. Dulu, memang bersekolah bukan hal yang primer bagi usia remaja. Hanya saja tidak bisa juga orang tua tak mengajarkannya cermat berinvestasi dan cermat mengatur pengeluaran. Belajar bisnis kecil-kecilan yang tak mengganggu belajarnya adalah hak seorang anak yang memasuki aqil baligh. Lepaskanlah dan berilah ia kepercayaan. Karena akalnya sudah sampai. Harus diasah dan dikembangkan.

Dan terakhir ini mungkin hal yang kontroversial. Allah menjadikan saat akal seseorang memasuki kesiapan untuk memanggul beban syariat, dijadikan juga reproduksinya matang dan siap untuk mencetak keturunan. Sekaligus juga ketertarikan dengan lawan jenis. Itu satu paket. Allah tidak membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS 2: 286). Berarti, secara naluriah sesungguhnya saat aqil baligh seorang anak sudah siap dan layak menikah. Cuma…

Memang di zaman ini lahir kata “cuma” untuk teori di atas. Mengeksepsi kenyataan puluhan tahun lalu bahwa pernikahan sangat lumrah terjadi di usia belasan tahun. Zaman ini memaksa seseorang dewasa lebih lambat. Ia bisa bertambah tua, namun belum tentu dewasa.

Tidak lain karena kampanye pembatasan kelahiran anak yang “menghasut” manusia zaman ini untuk menikah lebih telat. Mengabaikan betapa beratnya seorang manusia menjaga syahwat. Bahkan dalam kadar yang kebablasan, dimunculkan pula kampanye terselubung seks bebas. Kondom dijual bebas dan petugas mini market atau apotik tak mempedulikan seorang anak di bawah 17 tahun membeli kondom (padahal dalam kampanye lain, pernikahan ideal di atas usia 25 tahun). Standard usia wajar menikah yang ditandai matangnya reproduksi digeser oleh frame materialistis yang dikandung oleh kampanye tadi.

Dalam bahasan kontroversial menikah muda yang ada di benak pembaca, mohon pahami bahwa saat aqil baligh, sudah menjadi hak anak untuk diarahkan siap mengurus dirinya sendiri bahkan mempertanggung-jawabkan kemampuan seksualnya secara syar’i. Godaan bagi dirinya adalah perzinahan. Sadar atau tidak umat Islam terpasung oleh kampanye usia ideal menikah di atas 25 tahun, lantas orang tua mengabaikan kewajibannya untuk membuat anak siap menjalankan agamanya, mencari nafkah, serta menikah setelah usia aqil baligh. Orang tua cenderung tak peduli bahwa seorang anak butuh pembekalan itu semua. Di pikirannya, pendidikan di luar rumah sudah membina anaknya secara utuh, mendidiknya mencari nafkah dan juga berumah tangga. Padahal kenyataannya tidak begitu. Pendidikan di Indonesia berorientasi pada nilai dan gelar, bukan kemampuan yang menopang kedewasaan seseorang.

Terserah berapa tahun idealnya anak anda menikah dalam pandangan anda, tapi menuju ke arah sana adalah menjadi bagian dari tanggung jawab anda.

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: