RSS

Bermimpilah Parpol Islam, Mimpi yang Benar!

09 Jun

partai islam

Kata mimpi biasa digunakan pada dua konotasi, yaitu sebuah cita-cita beserta tekad untuk meraihnya, atau sebuah khayalan yang berada di luar realita. Tergantung pemakaiannya. Dan karena dua konotasi yang berbeda kutub ini, tak jarang perdebatan terjadi oleh dua pihak karena kata ini. Yang satu meremehkan, yang satu bersikeras.

Kalau ada yang mencemooh cita-cita seseorang dengan perkataan “mimpi”, maka akan ada pembelaan dari orang yang dicemooh, juga dengan mempertahankan term mimpi itu. Contohnya bila seseorang berkata pada kawannya, “Kuliah di luar negeri? Kamu bermimpi!” Biasanya akan dijawab oleh kawannya itu, “Ya, ini impian yang akan saya wujudkan kelak.”

Bila merujuk pada perkataan seorang alim, maka tak salah bila sebuah cita-cita itu dinamakan mimpi. Karena Hasan Al-Banna berkata, “Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini adalah kenyataan hari esok.”

Dalam konteks seorang muslim, jika ada yang mengejek cita-cita mulianya dengan perkataan mimpi, bolehlah ia jawab dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, bahwa mimpi seorang muslim itu adalah bagian dari 46 bagian kenabian. Tak salah sebuah konotasi dijawab dengan denotasi, untuk mempertahankan hujjah cita-cita mulia dari peremehan orang.

Bermimpilah Parpol Islam!

Tentu saja sebuah partai politik dibentuk dengan latar belakang tujuan mulia, mimpi mulia. Setidaknya begitu yang tercantum pada AD/ART partai atau statement para tokohnya. Khususnya partai politik Islam, setelah arus kebebasan terbuka oleh reformasi dan keharusan asas tunggal ditiadakan, membentuk sebuah partai politik berazas Islam adalah sebuah tindakan mulia untuk meneruskan cita-cita pejuang Islam Nusantara yang dibekap oleh dua rezim terdahulu: membangun negeri yang “Baldatun thoyibatun wa Robbun ghofur.”

Yang meremehkan ikhtiar ini tentu saja banyak. Bahkan lebih parah lagi di zaman sekarang, di mana partai berazas Islam yang awalnya pada tahun 99 lalu eksis cukup banyak, kini tinggal 3 yang tersisa yang akan mengikuti pemilu 2014: PPP, PBB, dan PKS. Salah satunya kita lihat lembaga-lembaga survey begitu rajin menyudutkan partai Islam, terutama bila mereka merilis sebuah hasil survey. Padahal tiap lembaga survey terlalu menyolok perbedaan hasilnya, namun kesimpulan mereka akan selalu sama: Partai Islam sudah ditinggalkan masyarakat Indonesia.

Namun selama partai Islam masih diberi kepercayaan oleh masyarakat, bermimpi mulia itu sebuah keharusan. Dan agar mimpi itu menjadi benar, wajib pula direnungkan sabda Rasulullah saw: “Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya.” (HR Muslim)

Mempertahankan Mimpi dalam Perubahan Zaman

Tidak mudah mengejewantahkan mimpi menjadi kenyataan. Ada zaman yang terus bergerak, tren yang terus berubah. Dulu dunia perpolitikan mengenal politik aliran. Ada aliran nasionalis, ada aliran Islam, juga ada komunis. Maklum, karena di awal-awal kemerdekaan, bangsa ini masih mencari jati diri. Tapi kini rakyat sudah tidak terlalu peduli dengan latar belakang sebuah arus politik. Yang mereka ingin tahu adalah seberapa kompeten sebuah entitas politik itu untuk mensejahterakan Indonesia. Karena bagi mereka itulah tujuan politik.

Hal ini tak lepas dari latar belakang reformasi yaitu krisis moneter. Berpolitik di zaman reformasi, maka harus menjadi antithesis dari krisis kesejahteraan yang pernah dan sedang melanda negeri. Tentu berbeda dengan berpolitik di awal kemerdekaan, yang sarat dengan pewarnaan jati diri bangsa.

Perilaku fleksibel, tanpa mengorbankan prinsip, adalah sebuah tuntutan bagi partai politik agar tetap eksis menghadapi perubahan zaman. Perilaku fleksibel ini tercermin dalam tuntunan Rasulullah saw: Bicaralah pada manusia sesuai kadar intelektualnya. Hadits ini sangat terkenal di kalangan aktivis Islam.

Hanya saja dunia politik akan selalu menghadirkan kontroversi. Sepak terjang yang fleksibel dari sebuah akun politik Islam akan selalu menghadirkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Ibaratnya, saat kita sedang berbicara kepada seorang intelektual dengan gaya bahasa yang terstruktur serta retorika yang tinggi, mungkin saja ada teman yang mendengar lalu terjadi salah paham mengira kita bersikap sombong dengan gaya bicara begitu. Padahal kita tidak sedang mengajak bicara teman kita.

Semua penilaian bergantung pada pengambilan sudut saat mengamati. Dan begitulah, kita hidup di dunia dengan posisi orang yang berbeda-beda. Celakanya, jarang orang yang mau untuk sedikit berpindah posisi demi mendapatkan penilaian alternatif, agar ia mendapat gambaran yang utuh dari suatu yang dinilainya.

Perumpamaan lain, seorang dukun yang menjanjikan kesejahteraan bagi clientnya, bila ia berpenampilan kere, adakah client yang tertarik dengan janjinya? Atau tukang obat penumbuh rambut, adakah yang mau membeli produknya bila ia terlihat botak?

Maka saat kader-kader partai Islam menjanjikan kesejahteraan untuk masyarakat, penampilan yang bagaimana yang seharusnya terlihat? Bisakah sebuah partai berteriak-teriak menjanjikan kesejahteraan dari dalam sebuah gubuk peyot? Adakah orang yang tertarik dengan janjinya?

Dari sebuah sudut, perspektif yang didapat adalah tak salah bila sebuah akun politik menghadirkan simbol-simbol kesejahteraan saat berbicara pada konstituennya, karena itu ibarat sebuah agunan kepada konstituennya. Ada yang menganggap itu wajar, meski memang ada yang keukeuh menuntut tiap kader politik itu harus berpenampilan sengsara.

Itu hanya sebuah contoh dari sekian banyak fleksibilitas gerak yang dilakukan oleh akun politik Islam.

Mimpi Dan Tribulasi

Yang tak boleh berubah adalah bahwa partai-partai politik Islam harus tetap berada pada langkah-langkah syar’i dalam mewujudkan mimpinya, sekalipun bersikap fleksibel.

Ruang fleksibilitas dalam ranah fiqh begitu luas. Dari yang kecil masalah menyentuh wanita setelah berwudhu’, hingga soal kehidupan bernegara. Namun akan ada keterkejutan saat sebuah parpol mengakomodasi non muslim pada sebuah kedudukan tertentu. Terdengar pertanyaan bertema wala’ wal baro’. Padahal wala’ wal baro’ sendiri begitu luas dan ada fiqh realitas yang menuntun bersikap. Atau penghormatan pada tokoh yang pernah menjadi symbol penindasan umat Islam, di mana symbol itu juga punya jasa pada umat Islam. Mencoba bersikap adil dengan memberinya gelar pahlawan dengan mempertimbangkan jasanya akan mengundang kontroversi lain.

Yang disayangkan bila ada komentar miring yang bercampur tuduhan yang tak layak untuk mereka yang sedang berikhtiar mewujudkan mimpi-mimpi mulianya. Komentar berlebihan yang melampaui batas.

Itulah tribulasi. Tidak hadir hanya dari pihak eksternal yang terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai musuh pemikiran Islam. Rasulullah SAW bersabda, ”Orang beriman selalu berada di antara lima ancaman berat, yaitu mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, setan yang menyesatkannya, dan nafsu yang melawannya.”

Itulah 5 komponen tribulasi yang dirasakan sendiri oleh parpol Islam. Empat komponen telah jelas tuntunan menghadapinya. Namun menghadapi mukmin yang mendengki, akan membuat keadaan serba salah. Bisa jadi mukmin yang mendengki itu dari sesama parpol Islam karena cemburu dengan perbedaan nasib partai – na’udzubillah. Atau dari kader disertir atau yang keluar dari parpol karena kecewa, lalu berbalik menyerang “rumah” yang pernah ia tempati dulu – tsumma na’udzubillah.

Bahkan media yang mengaku media Islam pun bisa menjadi tribulasi saat meneruskan berita bohong yang beredar. Baru-baru ini ada berita tentang artis kontroversial yang menjadi caleg dimuat dalam sebuah media Islam. Dalam berita itu dicantumkan bantahan dari parpol yang dihubungkan dengan si artis. Tapi tetap saja media Islam itu memuat berita yang heboh dan menyudutkan parpol Islam. Bahkan seharusnya setelah ada bantahan, bukankah telah terang masalahnya? Mengapa masih dimuat juga berita bohong itu?

Belum lagi kriminalisasi yang terjadi pada tokoh parpol Islam. Ini memang sebuah tribulasi lain dari lawan politik parpol Islam. Tapi meski para pengamat hukum sudah tegas-tegas mengatakan bukti lemah, tetap saja ada media Islam yang “menggoreng” kasus ini. Atau kasus yang sudah divonis bebas MA pun tetap dijadikan bahan serangan untuk sebuah parpol oleh sebuah media Islam. Padahal kasus itu sarat kriminalisasi karena upaya kader parpol Islam mengungkap sebuah kasus besar perbankan.

Tribulasi akan tetap ada. Kontroversi juga terus membayangi. Tapi mimpi tetaplah mimpi, yang akan menjadi mimpi yang benar bila perilaku pemimpinya jujur. Teruslah bermimpi, parpol Islam! Mimpi yang mulia.

 
Leave a comment

Posted by on June 9, 2015 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: