RSS

Rambu-Rambu Untuk Penyeru Anti Pornografi & Pornoaksi

06 Jun

Tolak Pornografi

Pekerjaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar bukanlah pekerjaan yang mudah. Sangat banyak rintangannya. Banyak yang tidak suka dinasehati untuk berbuat kebaikan. Dan jauh lebih banyak lagi yang tidak suka perbuatan buruknya dilarang. Maka jadilah orang-orang itu memusuhi perbuatan amar ma’ruf nahi munkar, dan terlebih lagi memusuhi pelakunya.

“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” QS Al-A’raf : 7

Ayat di atas mengutip kata-kata andalan dari orang-orang yang memusuhi amar ma’ruf nahi munkar. Kalau disamakan dengan zaman sekarang, orang-orang yang menyerukan amar ma’ruf nahi munkar itu diejek atau dituduh dengan kata “MUNAFIK”. Begitulah kata mereka yang tidak senang kemaksiatannya digugat.
Masalahnya kadang mereka membuktikan dengan tokoh-tokoh yang masyhur sebagai da’i yang terbukti melakukan perbuatan keji. Perbuatan yang sering da’i tersebut larang dalam ceramah-ceramahnya. Berbekal nama-nama itu, orang yang tidak senang kepada dakwah menyerang semua juru dakwah dengan kata “MUNAFIK”.

Saat ini kejahatan yang membuat pelakunya paling gerah untuk digugat adalah kejahatan pornografi dan pornoaksi. Dan yang paling sering mengumbar kata-kata “MUNAFIK” itu adalah para pelaku kejahatan ini. Seharusnya, tuduhan mereka itu menjadi peringatan bagi kita yang concern terhadap pornografi. Ada rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh penyeru anti pornografi dan pornoaksi agar seruan baik kita tidak menjadi bumerang.

Berikut rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh penyeru anti pornografi dan pornoaksi.

Ibda’ binafsika wad’u ghoiruka

Artinya kira-kira: Mulai lah dari dirimu sendiri, dan serulah orang lain. Kaidah dalam dakwah ini menekankan agar kita memulai terlebih dahulu amal soleh yang kita kerjakan, dan untuk kemudian kita seru orang lain agar mengerjakan amal tersebut. Orang yang tidak menghiraukan kaidah ini, mendapat murka dari Allah SWT.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Ash-Shaff 2 & 3.
Selain itu, ada pepatah mengatakan, Faaqidisy-syai’ laa yu’thiih (Orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak akan bisa memberikannya). Kaitannya dalam dakwah bukan hanya dalam masalah apakah penyerunya memiliki ilmu yang bisa ditransfer kepada orang lain atau bukan, tapi juga apakah penyerunya memiliki kebiasaan suatu amal atau tidak. Apakah orang tersebut memiliki imunitas dari pornografi dan pornoaksi atau tidak. Kalau tidak, rasanya sulit membuat orang lain mengikutinya apabila ia sendiri gandrung kepada pornografi dan pornoaksi.

Rambu pertama ini adalah rambu dasar yang harus dipatuhi oleh seluruh penyeru dakwah. Dan agar orang-orang yang memusuhi penyeruan anti pornografi tidak lagi memiliki tambahan bukti orang-orang yang dibilang munafik, maka setiap penyeru anti pornografi harus mematuhi kaidah ini.

Hindari Hal Yang Mendekati Zina

Rambu ini merupakan lanjutan dari rambu pertama. Pornografi dan pornoaksi itu adalah aktivitas perzinahan. Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : “Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.” (Hadis Shahih Muslim No. 2282)

Maka setiap orang yang menyerukan penolakan anti pornografi dan pornoaksi haruslah menghindari setiap bentuk zina. Bahkan harus menghindari hal-hal yang mendekati zina. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Al-Isra 32.

Jadi, janganlah penyeru anti pornografi dan pornoaksi itu malah gemar menonton foto/video porno, yang mengakibatkan ia jatuh pada zina mata. Jangan mengumbar pembicaraan – sekalipun bercanda – yang bertemakan hal-hal yang porno, yang menyebabkan ia jatuh pada zina lidah. Bahkan ikut mendengarkan hal-hal porno pun, ia telah jatuh pada zina telinga. Dan tangan dan kakinya, jangan pula berbuat aktivitas yang disebut pornoaksi. Bahkan, jangan sampai membayang-bayangkan hal-hal yang porno hingga jatuh pada zina hati.

Ghodul Bashor

Menundukkan pandangan dari memandang lawan jenis adalah tuntunan Islam. Jadi, bukan saja pornografi dan pornoaksi yang dilarang untuk dilihat. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”” An-Nuur : 30. (Juga lihat ayat ke-31.) Ghodul bashar atau menundukkan pandangan adalah sebuah aktivitas menghindari zina. Karena pandangan adalah pendahuluan dari perbuatan zina.

Kondisi du’at (penyeru dakwah) biasanya dijadikan barometer bagi kondisi lingkungannya. Ada ungkapan yang mengatakan, “Kalau da’inya saja sholatnya di rumah, gimana umatnya? Pada gak sholat kali.”. Dan ungkapan serupa yang bisa disebut turunan dari pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Maka seorang penyeru anti pornografi dan pornoaksi harus menjaga perangainya agar tidak jatuh kedalam dosa-dosa kecil seperti memandang lawan jenis, agar umat yang disayanginya tidak jatuh kepada hal yang lebih besar lagi. Yaitu menikmat pornografi.

Menjaga Adab Dalam Pergaulan Antar Lawan Jenis

Pornoaksi adalah sebuah aksi yang menerabas adab dalam pergaulan lawan jenis. Seorang penyeru anti pornografi dan pornoaksi memang haram untuk melakukan aktivitas pornoaksi. Tapi lebih dari itu, ia juga dituntut untuk memberikan teladan dalam bergaul yang benar antar lawan jenis.

Antara lain tuntunan Islam dalam pergaulan ialah menghindari berdua-duaan dengan non muhrim, tidak lemah lembut yang berlebih-lebihan dalam berdialog dengan lawan jenis, dan tetap ghodul bashor.

Yang paling penting harus dijaga adalah, jangan sampai pacaran. Karena aktivitas pacaran itu melabrak banyak rambu yang telah Allah tetapkan dalam pergaulan. Bila du’atnya saja pacaran, mungkin umatnya akan terbiasa berzina.

Menjaga Aurat

Sering orang mempertanyakan batasan pornografi. Kalau ada undang-undang yang melarang pornografi, maka orang-orang yang ingin menghambat peraturan itu akan menghalang-halanginya dengan mengatakan bahwa batasannya tidak jelas.

Islam telah terlebih dahulu mengatur batasan tersebut. Bagi muslim, bila telah mencapai kondisi mukallaf atau dengan kata lain baligh, maka ia wajib menutup auratnya untuk tidak dipertontonkan kepada orang lain.
Seorang du’at yang menyeru kepada anti pornografi, haruslah yang pertama dalam memberikan ketauladanan sikap yang benar. Bila ia menyeru anti pornografi, tapi ia sendiri membuka auratnya, khawatirnya Allah akan menuntutnya sesuai surat Ash-Shaff : 2 & 3 di atas.

Mungkin itu beberapa hal yang harus diperhatikan bagi penyeru anti pornografi dan pornoaksi. Itu semua menyangkut pertolongan Allah atas seruannya. Karena maksiat itu menghijab pertolongan Allah SWT. Kalau ada koreksi dan tambahan, saya sangat senang sekali.

Allahu’alam bish-showab.

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: