RSS

Dua Rasa yang Berbeda

02 Jun

ikhwan akhwat

Leonel Messi! Skema terjadinya gol cantik itu berawal dari operan Sergio Busquest dari tengah lapangan kepada Dani Alves yang sudah siap menyambut di sisi kiri pertahanan Real Madrid. Dengan beberapa gocekan, Dani Alves sukses melewati penjagaan Marcello dan dengan tenang memberi umpan ke tengah. Leonel Messi dengan kecepatannya berkelebat menyambut umpan itu. Dan sebelum menceploskan bola ke dalam gawang, ia membuat tiga orang pemain Real Madrid kebingungan dengan dribblingnya. Luar biasa.

“Yeeesss!! Ahahahaha… Kayaknya ada yang siap-siap makan seafood nih.” Reni tertawa lepas sambil mendelikkan mata ke arah suaminya, Toni, yang menekukkan muka melihat skor 3-1 tayang di layar kaca.

“Kemenangan udah di tangan nih, bang. Mau dimasakin cumi saos padang apa udang goreng tepung?” ujar Reni lagi menanti respon suaminya.

“Aaah.. Masih ada Leg 2 kok di Bernabeu. Nanti Madrid gantian ngebantai Barca di kandang.” Balas Toni.

“Iya.. itu kan nanti empat hari lagi. Perjanjiannya kan berlaku hari ini.”

“Nyantai aja dulu. Masih menit 79. Masih ada 11 menit lagi plus extra time.”

“Oke oke…”

Kedua insan itu kembali melempar pandangannya ke televisi 20 inch yang berdiri ditopang sebuah meja yang bersandar ke sebuah sisi di ruang tengah rumah. Reni tampak rileks, tapi tidak dengan Toni. Mereka hening dan membiarkan suara komentator yang berbahasa Inggris mendominasi ruangan di dini hari itu. Hingga menjelang selesai pertandingan, sebuah blunder yang dilakukan penjaga gawang Barcelona, Victor Valdes, membuat Toni bangkit dari duduknya.

“Yess! Memang mantap si Valdes. Sering-sering aja begini,” ujarnya setengah berteriak.

“Ssst… Jangan keras-keras. Nanti mengganggu tidur tetangga, bang,” Reni mengingatkan.

Sebuah bingkai yang ditempati foto pernikahan Toni dan Reni terpasang di dinding rumah yang mereka tempati kini. Di sisi foto itu, masih dalam bingkai yang sama, terangkai angka-angka melingkar yang membentuk sebuah jam. Komposisi jarum dan angka pada jam itu kini membentuk pukul tiga kurang lima belas menit. Dini hari.

Pertandingan semi final Copa Del Rey yang mempertemukan Barcelona dan Real Madrid telah berakhir. Skor 3-2 untuk kemenangan Barca disambut suka cita oleh penggemarnya, termasuk Reni. Kini ia sudah siap menagih perjanjian yang dibuat antara suaminya yang seorang penggemar Real Madrid fanatik, dengan dirinya.

Salah satu poin perjanjian itu adalah bila Barcelona menang, maka Toni harus membiasakan diri memakan makanan kesukaan Reni, sea food. Sebaliknya bila Toni yang menang, maka Reni harus memasak Rendang Padang kesukaan Toni dan harus belajar terbiasa memakannya. Kalau seri, tak ada perjanjian apa-apa.

Kedua sejoli itu memang punya hobi dan kesukaan yang berbeda. Dan itu sudah mereka sadari sejak ta’aruf pertama mereka.

“Kamu bisa masak?” Tanya Toni, tujuh bulan yang lalu. Atau empat bulan sebelum pernikahan mereka.

“Bisa. Saya suka sekali masak sea food.”

“Oh… Saya tak suka seafood. Saya suka masakan-masakan daging seperti rendang, sate kambing, sapi lada hitam, pokoknya setiap olahan daging.”

“Saya malah tidak suka dengan daging. Saya lebih suka sayuran dan seafood.”

Pengakuan yang kemudian dipinggirkan oleh mereka. Saat obrolan dalam ta’aruf itu menyinggung hobi, terungkap pula bahwa hobi mereka pun berbeda. Toni menyukai dunia petualangan alam, sedangkan Reni lebih menyukai dunia sastra. Ada pertemuan antara kedua hobi dua insan itu, yaitu suka menonton pertandingan sepakbola. Hanya saja, lagi-lagi ada perbedaan yang bertolak belakang. Tim favorit Toni adalah Real Madrid, sedangkan tim favorit Reni adalah Barcelona. Dua musuh bebuyutan di Liga Spanyol.

Toni dan Reni juga hadir dari latar belakang adat yang berbeda. Keluarga Toni bersuku Minangkabau. Kampungnya di Batusangkar. Sedangkan Reni adalah putri Solo, meski bukan keluarga keraton. Kelemah lembutan keluarga Solo tentu bertolak belakang dengan karakter keras Sumatera. Dan itu terbawa pada karakter dua orang tadi. Toni orangnya keras dan sedikit tempramen. Sedangkan Reni lemah lembut.

Setelah menikah, Toni sering tidak sabaran dengan Reni yang suka lambat dalam melakukan sesuatu, misalnya saat berkemas untuk berpergian. Dan bila begitu, Toni sedikit berang. Kalau bertepatan dengan masa PMS-nya, Reni menitikkan air mata oleh nada yang sedikit naik dari suara Toni.

Perbedaan karakter itu dengan jujur telah mereka akui saat ta’aruf. Tapi mereka akhirnya bersepakat untuk tetap melanjutkan proses ta’aruf itu ke jenjang pernikahan. Apa alasannya? Mereka sepakat bahwa visi dan misi pernikahan yang klop lebih mereka dahulukan daripada hal remeh temeh soal hobi, makanan kesukaan, dan karakter. Lagipula pikir mereka, karakter bertolak belakang justru cocok dibawa ke pernikahan. Bila yang satu pemarah, yang satu penyabar; yang satu periang, yang satu pendiam. Itu lebih cocok dari pada dua-duanya pemarah, atau dua-duanya pendiam di dalam rumah.

Dan setelah keduanya dipersatukan dalam ikatan yang sah, perbedaan-perbedaan itu tentu mereka temui. Mereka mencoba melebur perbedaan itu dengan salah satunya membuat perjanjian yang mengharuskan salah satu dari mereka membiasakan diri dengan kebiasaan pasangannya. Efektifkah?

*****

Pintu terbuka setelah Toni mengucapkan salam di depan rumah. Dengan senyum manis yang membuat Toni bersyukur telah pernah dan akan terus melihatnya, Reni membuka pintu. Toni masuk ke dalam rumah sembari melepas peci yang ia pakai untuk sholat isya’ di musholla tadi.

“Laper nih say.”

Toni bergegas ke ruang makan. Sebuah tudung saji telungkup menyembunyikan makanan yang ada di dalamnya di tengah meja makan. Toni membuka tudung itu. Dan… Tampak cumi goreng tepung tersaji manis di sebuah piring. Di piring sebelahnya, hijaunya sayur bayam tercium harumnya. Toni celingak-celinguk mencari alternatif masakan lain. Ada!!! Udang saos padang… Seafood juga.

“Gak ada yang laen say?” Tanya Toni.

“Selamat menikmati cumi dan udang yang aku masak dengan hati penuh cinta, bang.”

“Dek, please… mag abang udah kambuh nih…”

“Kan perjanjiannya gimana bang?”

Toni menghela nafas panjang. Ditariknya sebuah bangku di depan piring terisi nasi yang sudah disediakan oleh Reni. Agak bingung Toni ingin mengambil yang mana. Ia pilih bayam, karena ia netral dengan sayuran. Untuk lauknya, ia ambil sedikit cumi dan sedikit udang. Toni membaca basmalah dan mulai menyantap.

“Aduh…” Ujar Toni setelah sebuah suapan.

“Kenapa bang? Gak enak?” Tanya Reni yang sudah berada di sampingnya menemani makan malam.

“Enak bagi yang suka. Masakan kamu udah dipuji temen-temenku. Cuma…”

“Kenapa bang?”

“Gak sanggup dek. Masak telor dong.”

“Abis bang. Gak ada telor di kulkas.”

“Ya udah, abang beli nasi goreng di perempatan aja.”

Reni menatap Toni pilu. Ia tahu karakter keras suaminya. Tak berani Reni menagih perjanjian yang ia buat kemarin, beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Perjanjian agar satu sama lain harus mencoba melenyapkan perbedaan dengan cara membiasakan hal yang tidak disukai masing-masing pihak.

“Maaf, bukannya abang ingkar janji. Eh… memang ingkar janji ya.. Tapi maag abang lagi kambuh nih. Kalo dijejelin sama makanan yang abang ga suka, khawatirnya tambah parah.” Toni meminta pemakluman.

“Iya gak apa-apa. Nitip telor ya bang, buat besok pagi. Buat abang sarapan, kalo abang ga makan cumi atau udangnya.”

“Insya Allah.” Toni meneguk segelas air dan kemudian melangkah menuju pintu.

Belum sampai Toni menuju pintu, handphonenya di dalam kamar menderingkan ringtone tanda ada panggilan masuk. Toni berbelok menuju kamar.

*****

“Kamu sudah mantap sama dia?” Tanya Toni pada lawan bicaranya di telepon. “Dia bukan orang minang. Kamu yakin bisa cocok? Kalian akan menemui banyak perbedaan, dan itu cukup mengganggu dalam rumah tangga.”

Ucapan itu terdengar oleh Reni yang berjalan menuju kamar.

“Pikirkan dulu masak-masak.” Suara Toni mencoba meyakinkan lawan bicaranya bahwa perbedaan antara dua insan akan menjadi penghambat pernikahan yang samara.

“Hendri ya bang? Boleh aku ikut bicara?” Suara Reni menyela obrolan via udara itu. Reni sedikit ragu, tapi memberanikan diri. Hendri adalah adik kandung Toni.

“Kenapa say? Bentar, abang aktifin loud speaker.” Toni memencet sebuah tombol di handphonenya. “Hen, mbak mu juga mau ngomong.”

“Gak masalah, Hen kalau kamu sudah mantap dan sudah istikhoroh. Kan Allah sudah bilang kalau perbedaan latar belakang suku dan etnis itu agar ada interaksi, ada proses saling mengenal antara manusia.”

Toni mengernyitkan dahinya. Dan dia baru sadar kalau antara ia dan istrinya juga berbeda suku. “Tapi realitanya kan, memang susah menghadapi perbedaan dalam rumah tangga, dek,” argumen Toni.

“Betul, tapi apa satu suku itu lantas sudah pasti satu selera? Om Adnan dan istrinya, sama-sama minang. Tapi perbedaan selera makannya mirip sekali dengan kita, bang.”

“Iya sih.. Itu karena om Adnan orang minang daratan, orang darek, sedangkan istrinya orang pesisir yang terbiasa dengan laut.”

“Nah, lantas harus yang seperti apa? Satu kampung persis?”

Toni terdiam mendengar argumen istrinya.

Reni melanjutkan, “Hen, jangan pusingin selera. Seorang muslim yang sudah tersibghoh atau tercelup hatinya ke dalam Islam, maka fikiran hingga seleranya pun akan ikut terwarnai dengan nilai-nilai Islam. Contohnya, walaupun abang dan mbak Reni beda selera – abang suka nasyid aliran Izzatul Islam, Shoutul Harokah; dan mbak Reni suka yang seperti Snada dan Gradasi, tapi intinya kami sama-sama suka nasyid. Suka lagu islami. Buku bacaan kami pun suka yang islami. Bacaan tentang keluarga merujuk ke bahan bacaan yang islami. Dan banyak lagi persamaan antara kami berdua yang sama-sama suka yang berbau keislaman.”

Reni berhenti sejenak dan melihat ke arah Toni yang sedang duduk di pinggir kasur di sampingnya, menyimak yang dikatakan oleh Reni.

“Kalau masalah perbedaan selera makan, ya itu jauh lebih rendah levelnya dibanding persamaan tujuan, cita-cita, dan visi misi membentuk rumah tangga. Kamu mau cari yang seleranya sama seperti kamu tapi visi misi membangun rumah tangganya beda?

Perbedaan remeh temeh itu insya Allah akan terbiasa kalian hadapi. Yang diperlukan hanyalah lapang dada dan akhlak yang baik. Itu bukan penghalang untuk terwujudnya generasi muslim dari rumah tangga kalian kelak kok.”

Dan pembicaraan itu berakhir meski Toni tetap pada pendiriannya untuk menyarankan mencari calon pendamping muslimah, yang hatinya sudah tercelup dalam pewarnaan Islam, tapi punya banyak kesamaan hal-hal kecil dengan Hendri.

“Abang berangkat ya, cari nasi goreng.” Setelah handphone dimatikan.

“Sebentar bang, kok perut Reni gak enak ya…” Setelah berucap itu, Reni bergegas ke kamar mandi.

“Huek…” Terdengar suara Reni yang seperti tersiksa oleh rasa mualnya.

“Dek, kamu kenapa? Masuk angin? Mag kamu kambuh?” Tanya Toni. Sakit mag memang menjadi salah satu dari sedikit persamaan antara mereka.

“Abang belum liat yang ada di meja kamar?” Tanya Reni dari kamar mandi.

“Apaan?” Toni yang masih di kamar beranjak menuju meja yang terletak di samping kasur. Terdapat sebuah benda seperti stik es krim. Benda itu memperlihat dua garis nyata di tengahnya.

“Ini apaan dek, yang kayak stik es kirm?”

“Itu test pack bang. Kalau garisnya satu, tandanya tidak hamil. Tapi kalau ada dua garis, berarti hamil.”

Toni terdiam. Sumringah. Senyumnya mengembang. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga tak karuan.

“Kamu benar, dek. Celupan Islam-lah yang menyatukan selera kita. Juga dengan sesosok jasad belum sempurna yang kamu kandung. Ia akan menjadi bukti kuat bahwa kesamaan cita-cita dalam rumah tangga mengalahkan perbedaan remeh temeh antara dua manusia. Abang bangga padamu dek.” Ujar Toni dalam hati.

“Bang?” Reni memanggil suaminya. Mualnya sedikit hilang, dan ia beranjak ke dalam kamar. Didapatinya suaminya sedang bersujud syukur dengan suara sesenggukan.

 
2 Comments

Posted by on June 2, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

2 responses to “Dua Rasa yang Berbeda

  1. Ami

    June 3, 2015 at 8:31 am

    Nggak menyangka ceritanya bisa semengharukan ini🙂

     
    • Zico Alviandri

      June 23, 2015 at 10:28 pm

      aw aw aw…😀

       

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: