RSS

Monthly Archives: May 2015

Tilawah Lenggam Jawa, Obat yang Salah Untuk Krisis Budaya

Lantunan ayat Al-Qur’an seharusnya membuat orang khusyuk menyimak. Tapi tidak dengan yang terjadi baru-baru ini. Pada acara Isra Miraj di Istana Negara, Jumat 15 Mei 2015, pembacaan ayat suci Al-Qur’an malah menimbulkan kegaduhan. Sebabnya adalah ayat-ayat yang sakral itu dibacakan dengan irama lenggam Jawa.

Irama seperti itu biasa diperdengarkan pada acara-acara pergelaran wayang. Sedangkan selama ini pembacaan ayat suci Al-Qur’an di acara formal mengikuti irama baku ala Timur Tengah. Dapat dimaklumi sensasi ini mencolek perasaan masyarakat yang sensitif. Sebagian masyarakat menilai bahwa tindakan ini menodai kesucian Al-Qur’an.

Adalah Menteri Agama Lukman Saifuddin yang buru-buru mengklarifikasi bahwa tilawah dengan lenggam Jawa itu berasal dari idenya. Ia beralasan terobosan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian budaya bangsa.

“Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air. Kita kenal di tanah air ini banyak sekali langgam pembacaan alquran, masing-masing daerah punya langgam tersendiri,” ujarnya seperti dikutip media massa.

Kalau tujuannya menjaga budaya bangsa, lantas haruskah agama yang diutak-atik?

Krisis Budaya

Entah disadari atau tidak oleh masyarakat Indonesia, kenyataannya bangsa ini memang sedang mengalami krisis budaya. Masyarakat kini merasa asing dengan budaya sendiri, sebaliknya malah gandrung dengan budaya luar.

Kita ambil contoh kalimat pepatah yang merupakan warisan kebijaksanaan para leluhur, berapa banyak anak bangsa yang hafal? Bisa diperbandingkan dengan berapa banyak dialog-dialog adegan film luar negeri yang dihafal oleh mereka.

Kalau menguasai bahasa daerah bisa dinilai sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa, berapa banyak anak bangsa – khususnya di kota-kota besar – yang menguasai bahasa daerah? Di banyak tempat di Indonesia, bahasa daerah tertolong kelestariannya karena masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Tetapi kosa kata bahasa daerah itu semakin miskin. Sementara istilah-istilah baru yang tidak baku hampir setiap hari bermunculan dan digunakan dalam percakapan.

Di zaman teknologi canggih saat ini, terdapat banyak pintu masuk budaya luar menyusup ke tengah masyarakat. Periode 80-an mungkin hanya televisi – yang saat itu baru ada channel TVRI, radio, serta koran dan majalah sebagai pintu masuknya. Itu pun dengan akses yang terbatas. Kini ada kecanggihan internet dengan akses luar biasa yang digenggam oleh masyarakat.

Penanda krisis budaya di tengah bangsa ini bisa dilihat dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Disuguhi tayangan kartun dari negara tetangga Malaysia, anak-anak kecil mulai latah berbicara dengan logat dan Bahasa Melayu. Meski punya akar bahasa yang sama, tetapi ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari sebagian besar berbeda. Dan anak-anak kecil terbiasa dengan ungkapan-ungkapan yang ada di film seperti Upin Ipin, Bobo Boy, atau Serial Animasi Pada Zaman Dahulu.

Kemudian lihat remaja putra kita! Tontonan anime Jepang mereka nikmati dari layar kaca atau mereka akses langsung melalui internet. Nama tokoh-tokoh anime serta jalan ceritanya lebih mereka hafal daripada kisah sejarah perjuangan bangsa dan tokoh-tokoh pahlawan. Selanjutnya, mereka sedikit demi sedikit tertarik kepada bahasa dan kebudayaan Jepang.

Kemudian lihat remaja putri kita, mereka gandrung dengan drama Korea yang menyuguhkan senyum dan air mata. Kisah-kisah cinta itu bisa mereka tonton seharian melalui kaset DVD atau siaran televisi. Dan di situ pun masuk budaya Korea bersama bahasanya.

Di tengah orang dewasa, ada pegawai kantoran serta usahawan yang dalam setiap rapat mereka merasa kurang canggih bila belum menuturkan istilah-istilah dalam Bahasa Inggris. Menggunakan Bahasa Indonesia dengan baku terkesan aneh, tetapi berbicara dengan Bahasa Inggris dalam grammar yang baik menjadi keharusan.

Ibu-ibu rumah tangga tak kalah tersusupi budaya asing dengan kisah Mahabarata, Ramayana, dan tontonan lain dari India.

Juga ada pejabat yang tak kenal budaya bangsa dengan bangga berbicara kotor di depan layar televisi. Sayangnya pejabat itu dianggap sebagai pahlawan yang berani melawan korupsi.

Band-band luar negeri tiap bulan manggung di kota besar. Film-film Hollywood banyak tersaji di bioskop-bioskop.

Lalu obat untuk semua ini apakah harus agama yang ditundukkan untuk menyelamatkan budaya bangsa?

Tilawah Lenggam Jawa

Jelas ada kesalahan pemberian obat oleh pejabat negeri ini. Seperti mengobati kurap dengan paracetamol. Bukan agama – apalagi Islam – yang merongrong budaya bangsa ini, tetapi sarana hiburan. Itu yang perlu diobati.

Sudah sejak dahulu agama membaur dalam adat istiadat masyarakat Nusantara. Di Minang, terkenal istilah “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah.” Kerajaan-kerajaan Islam yang menerapkan syariat Islam tumbuh subur di Nusantara. Di Jogja, istilah “khilafatullah” digunakan dalam gelar Sultan (sayang baru-baru ini Sultan menghapus gelar itu). Agama tak pernah menjadi masalah bagi budaya bangsa.

Tetapi sarana hiburan yang ditampilkan melalui media massa lah yang butuh terapi agar tidak membuat masyarakat semakin buram melihat budaya sendiri. Pemerintah harusnya mendorong industri kreatif untuk semakin giat memperkenalkan budaya sendiri. Memang sudah ada kartun produk negeri sendiri, hanya saja jumlahnya masih jauh untuk mengimbangi serbuan kartun luar.

Industri perfilman nasional harus dibantu dengan maksimal oleh pemerintah. Tetapi dengan catatan, para pelakunya harus membuat produk yang bersesuaian dengan kultur dalam negeri.

Industri kreatif lah yang bisa menjadi obat bagi krisis budaya bangsa. Bukan tilawah dengan lenggam Jawa.

*Alhamduilllah dimuat di KabarUmat

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2015 in Artikel Umum

 

Vonis (Puisi Untuk Mursi & Yusuf Qardhawi)

Mursi
Vonis itu mempertemukan kalian dengan ashabul ukhdud di sebuah reuni di mana nyali-nyali berdenting dengan pedang tiran. Hadir di sana ruh-ruh yang hidup untuk Tuhannya. Jasad mereka telah dimangsa tiran, tetapi ruh mereka dipeluk kasih sayang Tuhan.

Mereka punya cerita yang sama. Tentang pedang, tali, api, gergaji, panah, atau pun peluru yang melantangkan kalimat yang sama: “Demi Allah, Tuhannya ghulam ini.” Terucap sebelum perangkat kejahatan itu melumat jasad pemilik hati yang kokoh. Dan ending ceritanya sama:

Serempak mata semesta melihat pada kebenaran.

Gergaji dan Zakaria akan terus terduplikasi hingga akhir zaman. Salah satunya menitis pada kalian bersama vonis itu. Menandakan keberlanjutan satu seruan yang tak kan putus.

Itulah mengapa aku mengerti apa arti senyum kalian saat palu hakim digebrakkan ke meja hijau. Reuni itu telah kalian harap-harapkan dalam doa di sepertiga akhir malam. Begitu siapnya kalian membersamai ruh-ruh ashabul ukhdud, Sumayyah binti Khayyat, dan saudara-saudaranya.

Vonis itu tiketnya. “Demi Allah, Tuhannya si anak ini.”

*Alhamdulillah dimuat di dakwatuna

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2015 in Puisi dan Cerpen

 

Tilawah Langgam Jawa, Antara Diskursus Keilmuan dan Vonis yang Terburu-buru

Tilawah langgam jawa

Ah… kontroversi lagi. Dari penghapusan kolom agama di KTP, sampai yang terakhir tilawah dengan langgam Jawa, sering sekali timbul kontroversi soal Islam di tengah pak Jokowi. Kenapa ya? Dari yang hoax soal keturunan non muslim, hingga yang benar-benar terjadi yang kemudian ada yang diklarifikasi dan ada yang didiamkan.

Saya kira netizen belum lupa soal lukisan yang berbau kepercayaan pagan di kafe anaknya mas Jokowi. Nah, kalau ide cara berdoa yang pernah dicetuskan Menteri Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan, ada yang masih ingat?

Ya begitulah umat Islam dihadapkan pada rangkaian kontroversi demi kontroversi yang melintas di depan mata. Ketika umat Islam bereaksi, sudah siap klarifikasi yang menyambut, sudah siap drama terzhalimi, sudah siap serangan balik tuduhan penyebaran fitnah, dan ada sekelompok orang yang bersorak melihat umat Islam misuh-misuh.

Bagaimana dengan kasus tilawah dengan langgam Jawa ini?

Idealnya

Idealnya persoalan ini dibiarkan saja murni menjadi diskursus para alim yang mengerti tentang ilmu Al-Quran. Jangan buru-buru menyeretnya kepada pusaran politis yang kemudian memunculkan prasangka macam-macam semisal deislamisasi secara terstruktur oleh rezim yang sedang memerintah. Menteri Agama Lukman Saifuddin adalah seorang muslim, Qari Muhammad Yasser Arafat adalah seorang muslim, dan Presiden RI Joko Widodo adalah seorang muslim. Berhakkah mereka mendapatkan prasangka baik? Sangat berhak.

Idealnya kita – penulis dan mereka yang awam dalam ilmu Al-Quran – bisa menikmati nasihat dari Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, atau pendapat KH. Prof. Dr. Ahsin Sakho Muhammad. Idealnya dengan kejadian itu kita bisa mengerti bagaimana hukum melagukan Al-Quran dan seluk beluknya tanpa buru-buru ikutan menuduh.

Karena bacaan Al-Quran yang khas dengan nada kedaerahan itu bukan sesuatu yang baru. Bila shalat di tengah komunitas orang Minang dan diimami oleh orang Minang, tidak sekali dua kali penulis mendengar nada yang khas tercirikan benar dari daerah ranah Minang.

Begitu juga saat shalat di tengah komunitas orang Sunda dan diimami orang Sunda. Pernah juga plus pelafalan yang khas… “ijaja anasrullah…” atau “Pahuwa pii ‘ii syatir radhiyah”. Memang sih, tuduhan orang Sunda tidak bisa menyebut huruf “F” itu pitnah!

Begitu juga saat shalat di tengah orang Jawa dan diimami orang Jawa, khas medok Jawanya serta sedikit banyak nada langgam tak bisa dipungkiri terdengar.

Pembacaan Al-Quran yang khas dengan nada kedaerahan itu sudah berlangsung sejak lama. Bahkan mungkin sejak Islam masuk ke Nusantara. Lalu apakah kita mau ditertawakan pendukung Jokowi dengan menuduh itu cara deislamisasi?

Karena itu saya kira tuduhan deislamisasi adalah tuduhan yang terburu-buru. Apalagi tidak sedikit pendapat yang membolehkan langgam Jawa dipakai dalam mengindahkan Al-Quran. Artinya masalah ini ketika menyeruak ke muka publik, rupanya menjadi pendapat yang debatable antar sesama ahli ilmu. Dan kita bisa menikmati setiap argumen itu. Biarlah diskursus ini tergeletak dalam ranah keilmuan.

Yang menjadi kesepakatan antara mereka adalah bahwa tidak boleh menyalahi tajwid. Itu jelas. Itu hal yang ushul.

Hindarilah terburu-buru memvonis begini begitu, karena tugas da’i bukanlah menghakimi, selain itu juga tuduhan yang salah kadang berbalik menjadi bumerang yang merugikan buat dakwah. Tugas da’i mengatakan yang salah adalah yang salah dengan disertai bukti ilmiah. Namun objek dakwah tidak akan pernah suka dengan sikap mudah menuduh dari seorang da’i.

Allahua’lam bish-shawwab.

*Alhamdulillah dimuat di dakwatuna

 

Karena Hati Ini Telah Lapang

keridhoan

Ada dua kenikmatan yang bertolak belakang di waktu malam: Kenikmatan di dunia gemerlap (dugem), begitu orang-orang menyebutnya; dan kenikmatan di sepertiga akhir malam yang dirasakan oleh pelaku tahajud. Kenikmatan yang pertama mudah dirasakan, sedangkan kenikmatan kedua perlu waktu dan perjalanan yang panjang untuk merasakan nikmatnya.

Di siang hari yang terik, ada dua kenikmatan yang juga bertolak belakang. Satu kenikmatan di cafe-cafe dan tempat makan, satu kenikmatan orang yang tengah menahan lapar dan dahaga dalam shoumnya.

Kenikmatan yang kedua sering tidak dimengerti oleh orang lain.

Saya pernah mendengar kisah tentang dialog seorang penikmat dunia dengan seorang sahabat Al-Qur’an (shohibul Qur’an), yang kurang lebih dialognya seperti ini: “Kenapa kamu menghabiskan waktu dengan Al-Qur’an? Lebih baik kamu mendalami ilmu-ilmu dunia agar wawasan kamu bertambah.” Ujar si penikmat dunia.

“Wah, saya kalau sehari saja tidak membaca Al-Qur’an, rasanya hidup ini tidak nikmat.” Ujar shohibul Qur’an

“Bagaimana mungkin?” Penikmat dunia tidak mengerti dan tidak percaya.

“Akan susah saya menerangkan kenikmatan itu kepada anda, seperti ibaratnya menerangkan kenikmatan pernikahan pada anak yang belum baligh.” Pungkas shohibul Qur’an.

Maka tidak mengherankan apabila di suatu tempat masyarakatnya begitu antusias menyambut perda syari’at, sedangkan di tempat lain orang-orang terperangah dan tidak habis pikir bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada yang ingin hidup di bawah naungan syari’at. “Kembali ke zaman batu” pikirnya. Begitulah, ada kenikmatan yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang.

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 125 sudah menerangkan hal ini, “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

Kelapangan dada dalam Islam lah yang dimiliki oleh pelaku tahajud, pecinta shoum sunnah, shohibul Qur’an, dan masyarakat yang menerima syariat. Kelapangan dada itu tidak dimiliki oleh pecinta dunia. Melihat kenikmatan-kenikmatan itu saja mereka sudah terasa sesak dadanya dan sulit untuk mereka mengerti bahwa ada kenikmatan di balik itu.

Ulama salaf pun berkata mengenai kenikmatan hidup di bawah naungan Islam: “Seandainya para raja itu tahu kenikmatan yang kami rasakan, tentu mereka akan merebutnya dengan pedang mereka.”

Memang ada gap yang besar antara penikmat dunia dan pecinta akhirat. Yang pertama berada di wilayah lembah, sedangkan yang kedua ada di wilayah pegunungan. Untuk ke lembah, tak terlalu besar energi terkuras. Tapi untuk beralih ke wilayah pecinta akhirat, ada tebing tinggi yang perlu ditaklukan. Ada jalan yang mendaki dan sukar. Al-Aqobah. Allah menyebutnya dalam surat Al-balad: “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS Al-Balad (90) : 11)

Tetapi setelah berada di pegunungan tinggi itu, maka ungkapan seperti ini terasa masuk di akal:

“Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat “ (H.R. Abu Dawud)

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَ بِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَ رَسُوْلاً

Aku rela Allah swt sebagai Tuhanku, aku rela Islam sebagai agamaku, dan aku rela mengakui nabi Muhammad sebagai rasul.