RSS

Tilawah Lenggam Jawa, Obat yang Salah Untuk Krisis Budaya

24 May

Lantunan ayat Al-Qur’an seharusnya membuat orang khusyuk menyimak. Tapi tidak dengan yang terjadi baru-baru ini. Pada acara Isra Miraj di Istana Negara, Jumat 15 Mei 2015, pembacaan ayat suci Al-Qur’an malah menimbulkan kegaduhan. Sebabnya adalah ayat-ayat yang sakral itu dibacakan dengan irama lenggam Jawa.

Irama seperti itu biasa diperdengarkan pada acara-acara pergelaran wayang. Sedangkan selama ini pembacaan ayat suci Al-Qur’an di acara formal mengikuti irama baku ala Timur Tengah. Dapat dimaklumi sensasi ini mencolek perasaan masyarakat yang sensitif. Sebagian masyarakat menilai bahwa tindakan ini menodai kesucian Al-Qur’an.

Adalah Menteri Agama Lukman Saifuddin yang buru-buru mengklarifikasi bahwa tilawah dengan lenggam Jawa itu berasal dari idenya. Ia beralasan terobosan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian budaya bangsa.

“Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air. Kita kenal di tanah air ini banyak sekali langgam pembacaan alquran, masing-masing daerah punya langgam tersendiri,” ujarnya seperti dikutip media massa.

Kalau tujuannya menjaga budaya bangsa, lantas haruskah agama yang diutak-atik?

Krisis Budaya

Entah disadari atau tidak oleh masyarakat Indonesia, kenyataannya bangsa ini memang sedang mengalami krisis budaya. Masyarakat kini merasa asing dengan budaya sendiri, sebaliknya malah gandrung dengan budaya luar.

Kita ambil contoh kalimat pepatah yang merupakan warisan kebijaksanaan para leluhur, berapa banyak anak bangsa yang hafal? Bisa diperbandingkan dengan berapa banyak dialog-dialog adegan film luar negeri yang dihafal oleh mereka.

Kalau menguasai bahasa daerah bisa dinilai sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa, berapa banyak anak bangsa – khususnya di kota-kota besar – yang menguasai bahasa daerah? Di banyak tempat di Indonesia, bahasa daerah tertolong kelestariannya karena masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Tetapi kosa kata bahasa daerah itu semakin miskin. Sementara istilah-istilah baru yang tidak baku hampir setiap hari bermunculan dan digunakan dalam percakapan.

Di zaman teknologi canggih saat ini, terdapat banyak pintu masuk budaya luar menyusup ke tengah masyarakat. Periode 80-an mungkin hanya televisi – yang saat itu baru ada channel TVRI, radio, serta koran dan majalah sebagai pintu masuknya. Itu pun dengan akses yang terbatas. Kini ada kecanggihan internet dengan akses luar biasa yang digenggam oleh masyarakat.

Penanda krisis budaya di tengah bangsa ini bisa dilihat dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Disuguhi tayangan kartun dari negara tetangga Malaysia, anak-anak kecil mulai latah berbicara dengan logat dan Bahasa Melayu. Meski punya akar bahasa yang sama, tetapi ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari sebagian besar berbeda. Dan anak-anak kecil terbiasa dengan ungkapan-ungkapan yang ada di film seperti Upin Ipin, Bobo Boy, atau Serial Animasi Pada Zaman Dahulu.

Kemudian lihat remaja putra kita! Tontonan anime Jepang mereka nikmati dari layar kaca atau mereka akses langsung melalui internet. Nama tokoh-tokoh anime serta jalan ceritanya lebih mereka hafal daripada kisah sejarah perjuangan bangsa dan tokoh-tokoh pahlawan. Selanjutnya, mereka sedikit demi sedikit tertarik kepada bahasa dan kebudayaan Jepang.

Kemudian lihat remaja putri kita, mereka gandrung dengan drama Korea yang menyuguhkan senyum dan air mata. Kisah-kisah cinta itu bisa mereka tonton seharian melalui kaset DVD atau siaran televisi. Dan di situ pun masuk budaya Korea bersama bahasanya.

Di tengah orang dewasa, ada pegawai kantoran serta usahawan yang dalam setiap rapat mereka merasa kurang canggih bila belum menuturkan istilah-istilah dalam Bahasa Inggris. Menggunakan Bahasa Indonesia dengan baku terkesan aneh, tetapi berbicara dengan Bahasa Inggris dalam grammar yang baik menjadi keharusan.

Ibu-ibu rumah tangga tak kalah tersusupi budaya asing dengan kisah Mahabarata, Ramayana, dan tontonan lain dari India.

Juga ada pejabat yang tak kenal budaya bangsa dengan bangga berbicara kotor di depan layar televisi. Sayangnya pejabat itu dianggap sebagai pahlawan yang berani melawan korupsi.

Band-band luar negeri tiap bulan manggung di kota besar. Film-film Hollywood banyak tersaji di bioskop-bioskop.

Lalu obat untuk semua ini apakah harus agama yang ditundukkan untuk menyelamatkan budaya bangsa?

Tilawah Lenggam Jawa

Jelas ada kesalahan pemberian obat oleh pejabat negeri ini. Seperti mengobati kurap dengan paracetamol. Bukan agama – apalagi Islam – yang merongrong budaya bangsa ini, tetapi sarana hiburan. Itu yang perlu diobati.

Sudah sejak dahulu agama membaur dalam adat istiadat masyarakat Nusantara. Di Minang, terkenal istilah “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah.” Kerajaan-kerajaan Islam yang menerapkan syariat Islam tumbuh subur di Nusantara. Di Jogja, istilah “khilafatullah” digunakan dalam gelar Sultan (sayang baru-baru ini Sultan menghapus gelar itu). Agama tak pernah menjadi masalah bagi budaya bangsa.

Tetapi sarana hiburan yang ditampilkan melalui media massa lah yang butuh terapi agar tidak membuat masyarakat semakin buram melihat budaya sendiri. Pemerintah harusnya mendorong industri kreatif untuk semakin giat memperkenalkan budaya sendiri. Memang sudah ada kartun produk negeri sendiri, hanya saja jumlahnya masih jauh untuk mengimbangi serbuan kartun luar.

Industri perfilman nasional harus dibantu dengan maksimal oleh pemerintah. Tetapi dengan catatan, para pelakunya harus membuat produk yang bersesuaian dengan kultur dalam negeri.

Industri kreatif lah yang bisa menjadi obat bagi krisis budaya bangsa. Bukan tilawah dengan lenggam Jawa.

*Alhamduilllah dimuat di KabarUmat

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2015 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: