RSS

Tilawah Langgam Jawa, Antara Diskursus Keilmuan dan Vonis yang Terburu-buru

22 May

Tilawah langgam jawa

Ah… kontroversi lagi. Dari penghapusan kolom agama di KTP, sampai yang terakhir tilawah dengan langgam Jawa, sering sekali timbul kontroversi soal Islam di tengah pak Jokowi. Kenapa ya? Dari yang hoax soal keturunan non muslim, hingga yang benar-benar terjadi yang kemudian ada yang diklarifikasi dan ada yang didiamkan.

Saya kira netizen belum lupa soal lukisan yang berbau kepercayaan pagan di kafe anaknya mas Jokowi. Nah, kalau ide cara berdoa yang pernah dicetuskan Menteri Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan, ada yang masih ingat?

Ya begitulah umat Islam dihadapkan pada rangkaian kontroversi demi kontroversi yang melintas di depan mata. Ketika umat Islam bereaksi, sudah siap klarifikasi yang menyambut, sudah siap drama terzhalimi, sudah siap serangan balik tuduhan penyebaran fitnah, dan ada sekelompok orang yang bersorak melihat umat Islam misuh-misuh.

Bagaimana dengan kasus tilawah dengan langgam Jawa ini?

Idealnya

Idealnya persoalan ini dibiarkan saja murni menjadi diskursus para alim yang mengerti tentang ilmu Al-Quran. Jangan buru-buru menyeretnya kepada pusaran politis yang kemudian memunculkan prasangka macam-macam semisal deislamisasi secara terstruktur oleh rezim yang sedang memerintah. Menteri Agama Lukman Saifuddin adalah seorang muslim, Qari Muhammad Yasser Arafat adalah seorang muslim, dan Presiden RI Joko Widodo adalah seorang muslim. Berhakkah mereka mendapatkan prasangka baik? Sangat berhak.

Idealnya kita – penulis dan mereka yang awam dalam ilmu Al-Quran – bisa menikmati nasihat dari Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, atau pendapat KH. Prof. Dr. Ahsin Sakho Muhammad. Idealnya dengan kejadian itu kita bisa mengerti bagaimana hukum melagukan Al-Quran dan seluk beluknya tanpa buru-buru ikutan menuduh.

Karena bacaan Al-Quran yang khas dengan nada kedaerahan itu bukan sesuatu yang baru. Bila shalat di tengah komunitas orang Minang dan diimami oleh orang Minang, tidak sekali dua kali penulis mendengar nada yang khas tercirikan benar dari daerah ranah Minang.

Begitu juga saat shalat di tengah komunitas orang Sunda dan diimami orang Sunda. Pernah juga plus pelafalan yang khas… “ijaja anasrullah…” atau “Pahuwa pii ‘ii syatir radhiyah”. Memang sih, tuduhan orang Sunda tidak bisa menyebut huruf “F” itu pitnah!

Begitu juga saat shalat di tengah orang Jawa dan diimami orang Jawa, khas medok Jawanya serta sedikit banyak nada langgam tak bisa dipungkiri terdengar.

Pembacaan Al-Quran yang khas dengan nada kedaerahan itu sudah berlangsung sejak lama. Bahkan mungkin sejak Islam masuk ke Nusantara. Lalu apakah kita mau ditertawakan pendukung Jokowi dengan menuduh itu cara deislamisasi?

Karena itu saya kira tuduhan deislamisasi adalah tuduhan yang terburu-buru. Apalagi tidak sedikit pendapat yang membolehkan langgam Jawa dipakai dalam mengindahkan Al-Quran. Artinya masalah ini ketika menyeruak ke muka publik, rupanya menjadi pendapat yang debatable antar sesama ahli ilmu. Dan kita bisa menikmati setiap argumen itu. Biarlah diskursus ini tergeletak dalam ranah keilmuan.

Yang menjadi kesepakatan antara mereka adalah bahwa tidak boleh menyalahi tajwid. Itu jelas. Itu hal yang ushul.

Hindarilah terburu-buru memvonis begini begitu, karena tugas da’i bukanlah menghakimi, selain itu juga tuduhan yang salah kadang berbalik menjadi bumerang yang merugikan buat dakwah. Tugas da’i mengatakan yang salah adalah yang salah dengan disertai bukti ilmiah. Namun objek dakwah tidak akan pernah suka dengan sikap mudah menuduh dari seorang da’i.

Allahua’lam bish-shawwab.

*Alhamdulillah dimuat di dakwatuna

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: