RSS

Pulanglah Ihsan!

20 Aug

Langkah kaki Ihsan sudah sampai pada halaman Masjid Lailatul Qadar. Duduk di atas sebuah anak tangga teras masjid, Ihsan membuka kedua sepatunya lalu beranjak naik ke teras. Ihsan kemudian melangkah menuju tempat mengambil air wudhu. Tapi sebelum sampai ke sana, langkah Ihsan terhenti di depan majalah dinding yang berada pada salah satu sudut beranda masjid.

Di mading masjid Lailatul Qadar itu terdapat daftar acara I’tikaf yang diselenggarakan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ihsan mengamati daftar itu. Acara kajian dhuha dan qiyamul lail diisi oleh ustadz-ustadz ternama di kotanya. Bangkit gairah di hati Ishan untuk menuntaskan Ramadhan tahun ini dengan I’tikaf sepuluh hari penuh.

Tiba-tiba sebuah bayangan terbentuk pada kaca mading itu. Terlihat bayangan itu makin mendekat ke arah mading. Dan setelah dekat, Ihsan merasakan tepukan agak kuat di pundaknya disertai suara keras yang mencoba mengejutkan Ihsan. “DAAARR..”

“Gak kaget Bud. Kalo mau ngagetin orang, pake jurus anti bayangan dulu. Ente udah keliatan gerak-geriknya sama ane di kaca.” Ujar Ihsan.

“Hehe… setidaknya udah bisa mukul pundak ente.” Jawab orang yang memukul pundak Ihsan.

“Ente ngapain ke sini?” Tanya Ihsan.

“Ada syuro panitia I’tikaf. Antum jadi I’tikaf di sini kan? Insya Allah rame tapi tetep khusyu’ seperti tahun-tahun sebelumnya.”

Ihsan tersenyum, lalu menganggukkan kepala. “Insya Allah. Ane udah ambil cuti supaya bisa I’tikaf sepuluh hari terakhir.” Ujarnya.

“Ente gak pulang kampung?”

“Enggak. Insya Allah lebaran di sini.”

“Orang tua gimana? Mereka gak masalah?”

“Enggak kok.”

“Sip…”

Dialog itu berakhir dan bertepatan pula dengan suara adzan Ashar berkumandang. Mereka berdua menuju tempat pengambilan air wudhu’.

I’tikaf sepuluh hari penuh sudah menjadi tekad dan keinginan Ihsan sejak lama. Tak pernah ia merasakan I’tikaf sepuluh hari penuh. Selalu terkendala dengan pulang kampung. Bila ia pulang ke kampung, tak dapat ia melakukan I’tikaf dengan khusyuk. Selain tidak ada masjid yang punya tradisi I’tikaf di kampungnya itu, juga masakan orang tuanya menggodanya untuk berbuka dan sahur di rumah.

Tahun ini Ihsan sudah mengambil cuti dari jauh-jauh hari agar bisa I’tikaf selama sepuluh hari terakhir.

*****

Matahari makin dekat ke ufuk barat. Ini hari ke 20 Ramadhan. Setelah matahari terbenam, maka malam ke 21 pun dimulai. Rasulullah mengabarkan adanya malam lailatul qadar, malam yang memiliki derajat keistimewaan lebih baik dari 1000 bulan, yang terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Di kamar kosnya, Ihsan menyiapkan beberapa helai pakaian, handuk, peralatan mandi, tak lupa Al-Qur’an dan buku bacaan. Barang-barang itu disusun rapi pada sebuah tas ransel. Ihsan benar-benar mempersiapkan I’tikaf tahun ini dengan matang.

Setelah semuanya siap, Ihsan dengan langkah pasti menuju pintu untuk keluar menuju Masjid Lailatul Qadar. Tapi sebelum sampai di pintu, telepon genggamnya berdering dari saku celana. Ihsan dengan sigap mengambil telepon genggam itu. Terlihat di layar, nomor itu dari telepon rumah ibunya di kampung. Ihsan menekan tombol untuk menjawab panggilan.

“Assalamu’alaikum.” Ucapnya.

“Wa’alaikum salam. Ihsan, kamu lagi ngapain?”

Ihsan hapal betul suara itu. Suara ibunya.

“Aku lagi siap-siap mau ke masjid, Bu. Mau I’tikaf.”

“Oo.. Kamu sehat?”

“Sehat bu. Ibu bagaimana? Bapak sehat?”

“Sehat. Sehat semuanya di sini. Kamu tanggal berapa pulang ke kampung?”

“Saya rencananya gak pulang bu. Mau lebaran di sini saja.”

“Lho.. bagaimana kamu ini. Kamu gak kepengen kumpul dengan kakak dan adik-adikmu lebaran kali ini?”

“Ngg… Nggak dulu bu. Saya ingin lebaran di sini. Saya mau mencoba suasana lebaran di sini. Tahun ini saya mau I’tikaf sepuluh hari penuh. Maaf ya bu.”

“Lalu kapan kamu pulang? Pas hari raya?”

“Ngg.. Saya gak pulang bu. Mungkin… awal tahun depan saya pulang, insya Allah. Tapi lebaran kali ini saya gak pulang.”

“Pulang lah Ihsan! Belum tentu bapak dan ibumu masih hidup sampai tahun depan. Lebaran kali ini anak-anak Ibu yang ada di rantau semuanya pulang. Kalau kamu tidak pulang, kita gak kumpul lengkap. Jarang-jarang keluarga kita kumpul semua. Ibu ingin lebaran kali ini kita semua kumpul lengkap. Pulang ya!”

“Aduh bu… Saya udah susun rencana…”

“Untuk ibu dan bapak kamu, kamu ubahlah rencana kamu.”

Ihsan terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung.

“Sudah dulu. Sudah mau maghrib di sini. Cepat kabari kami kamu mau pulang tanggal berapa. Assalamu’alaikum.” Putus ibu Ihsan.

“Wa’alaikum salam…”

*****

“Ane bingung ustadz…”

Ihsan terlibat dialog dengan seorang ustadz peserta I’tikaf. Selepas tarawih, Ihsan meminta ustadz itu untuk berkonsultasi. Bersandar pada salah satu sisi tembok masjid, Ihsan menceritakan tentang rencananya yang terancam batal.

“Ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini ke orang tua sebelumnya?” Tanya ustadz itu.

“Belum ustadz. Ane pikir, orang tua ane akan menerima begitu saja rencana ane.”

Sang ustadz mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kapan ente terakhir pulang mengunjungi ortu ente?”

“Mmm… Lebaran tahun lalu.”

“Udah setahun. Ente belum pernah pulang setelah lebaran tahun lalu?”

Ihsan menggelengkan kepalanya.

“Berapa jam sih perjalanan ke kampung ente?”

“Dua belas jam perjalanan darat, ustadz.”

“Ooo…”

“Jadi bagaimana ustadz? Ana ingin bersikeras untuk I’tikaf full tahun ini. Ana ingin menolak permintaan orang tua ane. Tapi bagaimana ya bilangnya?”

“Ehem.. Kalau orang tua sudah menyuruh pulang… Tampaknya ada yang sudah dipersiapkan buat ente di kampung.” Sang ustadz tersenyum nakal.

“Maksudnya ustadz?”

“Ya ente lihat saja lah nanti apa yang telah dipersiapkan orang tua ente. Mudah-mudahan dia sholehah.” Sang ustadz tertawa.

“Ih.. Ane dijodohin, gitu?”

“Hehehe… Sepertinya sih begitu. Soalnya ente belum menikah juga sampai sekarang. Mungkin orang tua ente cemas.”

“Ah… Bisa aja ustadz. Ustadz, gimana niiih? Ana harus bilang apa?”

“Pulang lah, Ihsan! Patuhi permintaan orang tua kamu. Kamu bisa I’tikaf di sini sampai melewati malam 27. Setelah itu pulang lah. Ente kan bisa I’tikaf di kampung, kalau ente mau.”

“Berarti ana gak full dong I’tikafnya? Sayang ustadz, dua belas jam perjalanan itu bisa ane pergunakan untuk menyelesaikan tiga sampai empat juz bacaan Al-Qur’an. Itu dengan istirahat. Kalau tanpa istirahat, mungkin bisa khatam.”

“Ente harus pahami prioritasnya. Bahkan seorang yang hendak berjihad, tapi memiliki orang tua yang perlu diasuhnya, tidak diperkenankan berjihad oleh Rasulullah. Lagi pula, 12 jam itu ente senantiasa dalam kebaikan manakala mematuhi permintaan orang tua. Dalam 12 jam itu apa ente tidak bisa tilawah di mobil?”

“Kepala ana pusing kalau baca buku di mobil.”

“Oh.. ya minimal muroja’ah hafalan. Ente setel mp3 murotal. Gak sia-sia kan?”

“Ya sih.. tapi ana ngejer target tiga kali khatam Qur’an. Kalau waktu 12 jam gak terpakai untuk tilawah, bisa-bisa target ane gak kesampaian.”

“Yaaa… kembali ke hal yang lebih prioritas tadi, Ihsan. Orang tua juga punya hak untuk ente kunjungi. Apalagi sudah setahun. Semua ini salah ente.”

“Salah ane?”

“Ya… Pertama, ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini pada orang tua. Ente jangan pernah berpikir bahwa orang tua akan cuek bila anak-anaknya tidak bersama mereka saat lebaran. Justru saat-saat lebaran itu mereka melepas rindu dengan anak-anaknya. Kedua, ente sudah satu tahun tidak pulang. Ini masalah. Betapa cueknya ente kepada orang tua. Andaikan dalam setahun mereka sudah dikunjungi tiga atau empat kali, mereka mungkin bisa maklum. Jadi ente harus camkan, orang tua juga punya hak atas diri ente.”

“Orang tua ane punya hak atas diri ane.” Ihsan mengulang dengan pelan.

“Ya. Penuhilah hak mereka. Dikunjungi, dihubungi lewat telepon, bahkan dikirimi uang belanja.”

Ihsan mengangguk.

Ustadz melanjutkan, “Persiapan untuk I’tikaf Ramadhan ini bukan cuma sekedar persiapan pakaian, atau pun kesehatan. Tapi persiapkan agar tidak ada hal-hal yang bisa mengganggu I’tikaf. Salah satunya adalah orang tua. Ente harus komunikasikan dengan orang tua dari jauh hari. Kalau ente sering mengunjungi mereka, kan gak susah untuk minta izin supaya bisa I’tikaf sepuluh hari penuh.”

“Ya ustadz.”

“Ya begitu. Sekarang semuanya terserah ente. Ya mudah-mudahan orang tua ente masih bisa diminta kemaklumannya. Tapi kalau tidak, sebaiknya pulang saja.”

“Insya Allah ustadz.”

Dialog itu terhenti. Sang ustadz sudah beranjak dari duduknya. Tinggallah Ihsan yang agak lama merenungi sikapnya yang tidak acuh dengan keberadaan orang tuanya selama ini. Ia mulai menyadari kesalahannya. Pulang hanya setahun sekali saja rupanya sudah merupakan sebuah kesalahan. Ihsan mulai mengubah rencana. Setelah beberapa menit, ia beranjak ke tempat pengambilan air wudhu untuk melanjutkan tadarusnya.

“Robbirhamhuma kama robbayani shighoro..” Ihsan berdoa lirih untuk kedua orang tuanya. Air matanya menitik haru.

 

 
Leave a comment

Posted by on August 20, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: