RSS

Karena Doa Robithoh

21 Jul

Sebuah amplop putih berisi undangan menjadi pembicara sebuah seminar berada di tanganku. Dengan hati-hati aku robek amplop itu untuk mengeluarkan isinya, sebuah kertas HVS yang terlipat. Saat kubuka kertas itu aku menemukan namaku, Adi Saputra, sebagai pembicara dengan topik “Al-Qur’an menolak Pluralisme” di salah satu baris di antara deretan huruf-huruf yang membentuk isi surat.

Aku menghadapkan wajahku pada orang di depanku. “Baik. Insya Allah bisa.” Ujarku sambil tersenyum.

“Makasih banyak, bang. Makasih banyak.” Senyum orang di depanku lebih lebar. Terasa seperti senang mendengar kesediaanku.

“Siapa aja pembicara yang diundang?”

“Dari LSM Kajian Pluralisme Indonesia, ada Pak Hendrawan.”

“Oh… Langsung ketua umumnya nih, yang turun?”

“Bukan bang, bukan Pak Hendrawan Ketum LSM KPI. Saya dapat rekomendasi dari Ketumnya untuk mengundang seorang anggota baru LSM itu yang baru dua bulan berada di Indonesia setelah menyelesaikan S2 di Texas. Namanya memang mirip dengan nama ketumnya.”

“Oh begitu. Yah, nama Hendrawan memang pasaran sih. Hahaha…” Candaku diikuti tawa kurir pengantar undangan.

“Baik bang, saya mohon diri dulu. Ada rapat acara pukul 2 siang nanti.”

“Ya, silakan. Terima kasih undangannya ya, Mas… Siapa namanya?” Tanyaku.

“Saya juga Hendrawan pak. Tapi bukan saya yang jadi pembicara. Saya masih mahasiswa kok.” Dia nyengir.

“Hah? Ya ampun. Hahahaha…” Kini tawaku lebih keras dari sebelumnya. Tapi jadi merasa tidak enak hati setelah terlanjur mencandai nama Hendrawan.

“Mari bang…”

“Ya.. Mari.”

Aku menarik nafas panjang. Hendrawan… Mungkin nama itu benar pasaran. Tapi ada satu entitas unik yang memakai nama Hendrawan yang melekat dalam hati. Setiap mendengar nama Hendrawan, rasa penasaranku bangkit dan kerinduanku mengharu biru. Cukup lama nama Hendrawan hadir sebagai pelengkap doa Robithoh yang sering kulantunkan pada pagi atau sore hari tanpa pernah lagi bertemu muka dengan pemilik nama itu selama 12 tahun. Aku rindu pada pemilik nama pasaran itu.

*****

Saat itu, 12 tahun yang lalu, di sebuah musholla sederhana di tepi kompleks sekolah, aku hadir di tengah lingkaran kecil yang sedang menyimak kajian keislaman yang dibawakan oleh seorang alumni. Ada sebuah dialog yang begitu berkesan dan mengisi hati.

“Doa-doa di Al-Ma’tsurat itu doa Rasulullah ya kak?” Tanyaku yang sedang mengamati sebuah buku kecil berjudul Al-Ma’tsurat Wazhifah Kubro.

“Ya.” Jawab Alumni pengisi kajian. “Rasulullah rutin membacanya pagi dan sore. Karena Rasulullah tauladan kita, kita juga harus amalkan dong.”

“Doa Robithoh juga doa Rasulullah?” Kali ini yang bertanya adalah orang di sebelahku. Bernama Hendrawan.

“Bukan. Itu doa yang diajarkan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Kita kan diperbolehkan membaca doa apa saja redaksinya selama itu baik. Bahkan kita boleh berdoa dengan bahasa Indonesia. Nah, doa Robithoh ini memang bukan doa yang pernah Rasulullah lafalkan. Tapi doa ini begitu indah dan sangat baik. Dan tentu saja boleh kita amalkan.”

Hendrawan manggut-manggut.

“Iya Kak, kata-katanya indah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati ini telah berhimpun dalam taat padamu…” Aku mengeja halaman Doa Robithoh yang kubuka. “Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, abadikanlah kasih sayangnya… ”

“Kamu bisa bayangkan wajah saudara kamu ketika membaca doa itu. Supaya lebih khidmat.” Ujar kakak Alumni.

“Begitu ya kak? Aku mau membayangkan wajah Adi supaya dia gak gampang futur.” Ujar Hendrawan sedikit tertawa nakal.

“Oke, ana juga bayangin wajah antum, Hen.” Jawabku.

“Bagus. Kalian saling mendoakan ya! Biar ketua dan sekretaris Rohis tetap kompak.”

“Hehehehe…” Aku dan Hendrawan dan anggota pengajian lain cengengesan.

*****

Ruangan ini cukup luas. Berukuran 20×10 meter. Peserta seminar yang hadir pun cukup banyak. Ada sekitar seratusan bangku yang terisi oleh manusia. Terlihat dari wajahnya, para peserta cukup antusias mengikuti seminar kali ini.

Dan setelah 20 menit pembicara pertama menghabiskan waktu yang dijatah panitia untuk memaparkan pandangannya tentang “Al-Qur’an Mengajarkan Pluralisme”, kini giliranku memaparkan topik “Al-Qur’an Menolak Pluralisme Agama.” Sebuah makalah sudah siap di tangan. Aku pun memulai pembicaraan setelah tahmid dan sholawat.

“Nama saya Adi Saputra. Saya aktif sebagai ketua Yayasan Cinta Quran. Mulai akrab dengan Al-Qur’an sejak SMA ketika bergabung dengan Rohis SMA 83.

Ya saya pernah aktif di Rohis SMA. Bahkan berlanjut di Rohis kampus. Kalau Pak Hendrawan tadi bilang bahwa Rohis-Rohis SMA merupakan tunas permusuhan dengan perbedaan dan pluralisme, mungkin saja itu pengalaman beliau pribadi. Karena dulu ketika menjabat Ketua Rohis SMA 83, Pak Hendrawan ini sekretaris saya. Saya akrab sekali dengan dia, dulu. Saya tidak menyangka setelah 12 tahun berpisah akhirnya kami disatukan dalam acara seminar ini. Saya berterima kasih banyak pada panitia.”

Suasana sedikit gaduh di selingi tawa dan tepukan tangan kecil. Aku melihat Hendrawan yang disampingku tertawa. Tiba-tiba tangannya membuka hendak merangkulku. Aku sambut rangkulan itu. Setelah berangkulan, wajahnya bergerak mendekati mikrofon.

“Ya saya juga kangen dengan Pak Adi. Saya juga berterima kasih pada panitia.”

Aku menahan haruku. Dengan menahan sesak di dada, aku melanjutkan pemaparan makalah yang akan membantah pemaparan Hendrawan tentang pluralisme yang telah disampaikan sebelum giliranku.

*****

Acara seminar memasuki masa istirahat pas ketika adzan zhuhur berkumandang. Aku hanya bisa menyempatkan berbincang sedikit dengan Hendrawan menanyakan kondisinya, kerja dimana, dan tinggal dimana, serta bertukar nomor HP sebelum kemudian aku bergegas menuju masjid kampus.

Setelah mengikuti sholat zhuhur berjama’ah dan dilanjutkan sholat sunnah ba’diyah, aku yang bersiap meninggalkan kampus ini – karena tugasku menjadi pembicara sudah kutunaikan – didatangi seseorang yang juga menjadi pembicara pada sesi pagi tadi, Hendrawan.

“Sudah sholat, Hen?” Tanyaku.

“Sudah Di. Benar-benar perjumpaan yang tidak diduga.” Dia memandangiku sejenak dan melanjutkan kalimatnya, “Dan kamu tidak berubah. Tetap istiqomah di jalan dakwah.” Hendrawan tersenyum. Seperti bangga. Atau mengejekku?

“Kamu sendiri bagaimana Hen? Aku tidak menyangka kamu menjadi pendukung liberalisme sekarang.” Tanyaku.

“Panjang ceritanya, Di. Setelah aku ikut orang tuaku pulang kampung ke Magelang, kita masih saling kirim kabar kan, dan kamu tahu kan aku tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada dana?”

Aku mengangguk.

“Tahun kedua aku di Magelang, Allah melapangkan rezki orang tuaku. Usaha orang tuaku mulai memperlihatkan kesuksesan hingga terkumpul dana untuk melanjutkan kuliahku. Aku memilih IAIN Semarang.

Awalnya aku aktif di dakwah kampus. Tapi setelah semester tiga, aku mulai mengurangi kegiatan dakwah kampus. Itu karena aku tak bisa menahan rasa cintaku pada seorang gadis yang sekarang menjadi istriku. Aku berpacaran, dan teman-teman aktifis dakwah tak bisa lagi menerimaku.

Aku mulai jauh dari dakwah. Lulus kuliah, aku meneruskan baktiku di kampus, menjadi asisten dosen. Beberapa saat mengajar di kampus, aku mendapat beasiswa melanjutkan studi di luar negeri. Dan di luar sana aku banyak berinteraksi dengan pemikiran liberal.

Dulu saat menjadi mahasiswa dan asisten dosen, aku memang dikepung pemikiran-pemikiran seperti itu. Kondisiku yang jauh dari lingkungan aktivis dakwah membuat filterku rusak dan sedikit demi sedikit menikmati diskusi liberalisme.

Memang kadang ada pertentangan batin. Hati kecilku tak setuju dengan pikiran-pikiran ini. Tapi lingkungan telah terlanjur menyeretku lebih dalam.”

Ia diam. Dan dalam diam itu, aku menyerobot pembicaraan.

“Kamu tahu, sampai sekarang kamu masih aku doakan. Doa Robithoh yang aku ucapkan pagi dan petang itu, aku maksudkan agar Allah meneguhkan hati kamu dalam dakwah. Wasyroh suduroha bi faidil imani bika.”

“Terasa, Di. Aku beberapa kali bermimpi kita membaca Doa Robithoh bersama.” Potong Hendrawan. Aku terperanjat mendengar pengakuannya.

“Aku tidak bohong. Setelah bermimpi seperti itu aku berdoa agar kita dipertemukan dan kamu bisa menyelamatkan aku dari lingkungan yang buruk. Alhamdulillah doaku terkabul. Kita bertemu lagi, Di.”

“Kalau hati kamu menolak pemikiran sesat itu, kenapa kamu bertahan dalam lingkungan yang buruk?”

“Pertemuan ini ikhtiarku untuk keluar dari lingkungan yang buruk. Kamu tahu siapa yang merekomendasikan kamu jadi pembicara di seminar ini? Aku. Aku yang merekomendasikan kamu. Selama ini aku mencari tahu tentang kamu lewat internet. Dan ketemu. Dan pas sekali momennya saat aku ditawari menjadi pembicara seminar ini.”

Aku menatap sahabatku itu erat-erat.

“Aku sudah diangkat jadi PNS. Jadi, aku tidak lagi mengkhawatirkan nafkahku kalau aku murtad dari kelompok liberalis.” Ujar Hendrawan disambung dengan tawanya. Aku juga ikut tertawa.

“Kamu mau kalau mulai ngaji lagi dari materi ma’rifatulloh?” Tanyaku.

“Siapa takut?” Kami tertawa bahagia. Doa Robithohku tak sia-sia. Allah masih melekatkan hati kami dalam dakwah, Insya Allah.

 
3 Comments

Posted by on July 21, 2014 in Puisi dan Cerpen

 

3 responses to “Karena Doa Robithoh

  1. Puji Lestari

    July 21, 2014 at 4:31 pm

    merinding bacanya, pak…..🙂

     
    • Zico Alviandri

      July 26, 2014 at 3:26 am

      Jangan dibaca di deket kuburan, mbak…

       
  2. muhammad yarham

    December 21, 2014 at 2:26 pm

    amazing

     

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: