RSS

Menjual Capres PKS

29 Mar

Sebagian kader PKS – dengan naluri manusiawinya – mungkin kecewa, atau geregetan, manakala di penghujung Januari lalu Majlis Syuro PKS tak kunjung mendeklarasikan seorang calon presiden definitif dari PKS untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Alih-alih, Majelis Syuro malah menetapkan lagi tiga kandidat capres setelah sebelumnya menggelar pemira internal yang menghasilkan lima besar nama tokoh internal yang diinginkan kader.

Bagi sebagian kader, kejelasan satu nama yang akan diusung sebagai capres sangat membantu agar bisa fokus menjual partai ini saat mereka berkunjung ke rumah-rumah warga. Penetapan satu nama membuat mereka bisa fokus mengeksplorasi prestasi dan daya jual dari tokoh itu. Kader PKS yang banyak diisi oleh orang kreatif akan lebih terarah memproduksi konten-konten menarik.

Sedangkan penetapan tiga nama, menurut mereka membuat masyarakat bingung dan menilai PKS tak tegas. Ada juga masyarakat yang resisten pada salah satu dari tiga nama itu. Akhirnya mereka malah menolak semuanya.

Faktor Elektabilitas

Beberapa survey memperlihatkan bahwa salah satu alasan para pemilih menentukan pilihannya pada partai politik pada pemilu legislatif mendatang adalah berdasarkan tokoh yang diusung sebagai capres. Jarang masyrakat yang memperhatikan program atau visi misi partai. Pengaruh individu masih dominan pada masyarakat kita.

Karena itu sudah sewajibnya PKS menawarkan sosok yang layak diangkat menjadi capres kepada masyarakat. Segala bentuk alasan pilihan harus dijajaki dan disediakan agar masyarakat berbondong-bondong memilih PKS dari jalan alasan apa pun.

Ada pengalaman menarik dari seorang pelaku direct selling pada saat PKS masih bernama Partai Keadilan. Pada masa itu, tahun 1999, mendekati pemilu pertama setelah reformasi, Fakultas Kedokteran UI menyelenggarakan debat calon presiden di Salemba, yang dihadiri oleh Amin Rais, Sri Bintang Pamungkas, Yusril Ihza Mahendra, dan calon dari PK: Didin Hafidhuddin. Dalam debat itu terjadi sedikit keributan kecil antara Yusril dan Amin Rais. Lalu Kiai Didin menengahi dengan kata-katanya yang bijak.

Rupanya hal itu terekam dalam ingatan masyarakat. Ketika kader PK datang ke rumah-rumah warga, mereka menjelaskan bahwa kiai Didin yang diusung oleh PK hadir pada debat capres kemarin. Sambutan warga rupanya positif. “Wah, kalau dia keliatannya bijak. Bagus itu orangnya.” Itu salah satu komentar warga. Masyarakat menjadi simpatik, dan closing pun mudah.

Berbekal pengalaman 99 lalu, rasanya masyarakat bisa digugah melalui rentetan 130 penghargaan kang Aher, atau testimony kekaguman tokoh nasional kepada Hidayat Nur Wahid, atau video orasi Anis Matta yang membahana. Buat mereka percaya PKS punya capres yang mumpuni, dan mereka akan mempertimbangkan memilih PKS.

Sisi Positif Penetapan Tiga Calon

Mungkin saja kader PKS yang kecewa karena penetapan tiga capres itu belum memahami ada sisi positifnya. Penetapan tiga calon ini sebenarnya bisa berdampak baik pada elektabilitas PKS asalkan dikelola dengan baik. Bagaimana mengelolanya?

Sebenarnya tiga capres yang ditawarkan PKS memiliki kelebihan masing-masing. Ada yang menyandingkan jargon Cinta-Kerja-Harmoni pada karakter masing-masing capres. Anis Matta yang telah menelurkan buku “Biar Kuntumnya Mekar”, sebuah buku yang berisi nasihat rumah tangga, diidentikkan dengan karakter Cinta. Hidayat Nur Wahid, yang sosoknya diterima oleh berbagai kalangan umat beragama karena kesantunannya, diidentikkan dengan karakter Harmoni. Dan Ahmad Heryawan yang gemar mengoleksi berbagai penghargaan diidentikkan dengan karakter Kerja. Semuanya pas.

Anis Matta kita kenal jago orasi. Beliau memiliki retorika yang memukau. Hidayat Nur Wahid dikenal dengan sosok yang santun dan diterima oleh banyak kalangan. Berpengalaman memimpin lembaga tinggi negara yang merupakan modal menjadi presiden. Dan bersuku Jawa. Dan Ahmad Heryawan, adalah sosok yang sangat mudah dijual karena karya nyatanya.

Masing-masing capres ini pun memiliki pendukung fanatiknya di tubuh PKS.  Dan PKS memiliki stok kader kreatif yang melimpah. Tampaknya, sebaran kader-kader kreatif yang menjadi pendukung masing-masing calon cukup merata. Mereka bisa saling berkompetisi memaksimalkan daya kreatifitasnya untuk mempopulerkan capres pilihan.

Mungkin saja ada masyarakat yang resisten dengan salah satu capres. Maka, tawarkanlah capres yang sesuai dengan kecenderungannya. Perkenalkan kelebihan-kelebihan capres yang sesuai hingga orang itu tertarik. Seperti kader PKS, masyarakat juga punya pilihan sendiri kepada capres PKS. Untuk warga Jawa Barat, tentu lebih dekat dengan kang Aher. Kepada masyarakat dari suku Jawa, tawarkan Hidayat Nur Wahid. Dan untuk kalangan intelek, bisa dijual ide-ide Anis Matta.

Majelis Syuro sengaja membuat kompetisi antar mereka. MS telah mengamanahkan agar masing-masing capres bekerja meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya. Kompetisi ini seperti sebuah pesta kecil yang bisa membuat orang menoleh – begitu yang diistilahkan Anis Matta. Saat masyarakat menoleh, maka masyarakat akan menyadari bahwa PKS memiliki stok kader berkapasitas pemimpin nasional.

Permasalahan PKS adalah ketokohan. Dan itu disadari oleh para kadernya. Selama ini mereka lebih suka menjual nama partai daripada nama tokoh. Tapi toh masyarakat belum bisa memisahkan individu dan institusi. Ketika ada individu yang bermasalah, tetap saja partai yang kena getahnya. Jadi, tokoh itu sangat menentukan. Popularitas seorang tokoh bisa mengangkat atau menurunkan institusi.

Oleh karena itu, dengan cara ini PKS mulai terbiasa menjual nama tokoh. Toh yang dijual adalah orang-orang berkapabilitas dan integritas semua. Sekali jual langsung tiga nama.

 
1 Comment

Posted by on March 29, 2014 in Artikel Umum

 

One response to “Menjual Capres PKS

  1. arip

    March 29, 2014 at 7:42 am

    Aher-JK!

     

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: