RSS

Piagam Jakarta, Mars PKS, dan Islamophobia

05 Mar

“Kibarkan tinggi, panji Allah, bangun Indonesia penuh berkah…”

Itu adalah penggalan lirik Mars Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Yang mengaku kader PKS harusnya familiar dengan lirik dan nadanya. Selama ini lagu itu dinyanyikan pada acara-acara PKS baik berupa apel siaga, kampanye, dll.

Beberapa waktu lalu terjadi hal yang tidak biasa. Lagu Mars PKS itu dinyanyikan oleh paduan suara gereja Spiritus Santos, di Ruang (Auditorium) Kalimutu Grand Wisata Hotel, NTT, saat kunjungan presiden PKS Anis Mata ke provinsi yang penduduknya mayoritas beragama Katolik itu. Tumben, karena “kok mau ya orang Kristen menyanyikan lagu Mars Partai Islam?”

Berbagai tanggapan muncul. Ada yang bangga, dan ada juga yang mencela.

Ketegangan Umat Beragama

Kemerdekaan RI yang diperjuangkan oleh umat Islam rupanya tak bisa dinikmati seutuhnya oleh umat Islam. Contohnya rumusan pembukaan UUD 45 harus mengalami revisi berupa pencoretan tujuh kata: “dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Kabarnya pencoretan itu atas keberatan dari tokoh-tokoh non muslim dari Indonesia timur. Protes mereka disertai ancaman disintegrasi yang membuat Bung Hatta akhirnya mencoret tujuh kata itu.

Tragedi itu menyiratkan adanya ketegangan antara umat Islam dan umat agama lain di negeri ini. Padahal tujuh kata yang dicoret itu tidak mengikat golongan non muslim. Tapi mereka tetap merasa terusik. Keterusikan mereka, sedikit banyak bisa jadi lahir dari perasaan islamophobia.

Harusnya umat Islam sadar, bahwa PR mereka selanjutnya adalah mencairkan ketegangan dengan umat agama lain. Segala bentuk phobia baik besar maupun kecil harus dilenyapkan. Umat Islam harus bersikap inklusif pada mereka yang “tidak memerangi dan mengusir umat Islam di tanahnya sendiri.” Sikap inklusif dalam ranah muamalah, bukan aqidah. Tidak memberikan mereka wala’, tapi juga tidak baro’ pada hal-hal yang seharusnya tidak perlu disikapi dengan baro’.

Ketegangan dan Islamophobia ini telah menjadi ganjalan bagi umat Islam untuk berkuasa di tanahnya sendiri. Sebenarnya ada dua pilihan bagi umat Islam menyikapi ketegangan ini: berkuasa dengan penuh paksaan membiarkan kecurigaan dan ketakutan non muslim terpelihara, atau mencairkannya lalu berkuasa dengan penuh penerimaan oleh umat non muslim.

Yang jelas kalangan islamis Indonesia sampai saat ini masih belum bisa berkuasa di negerinya sendiri.

Partai Islam Pencair Ketegangan

Interaksi inklusif yang harus dibangun dengan non muslim tak perlu meninggalkan identitas ke-Islaman. Salah satu buktinya adalah saat non muslim nyaman berada dalam acara-acara Partai Islam. PKS, PPP, dan PBB sudah membuka diri untuk keberadaan caleg non muslim. Inilah suatu bentuk interaksi inklusif dan tanda bahwa non muslim sudah merasa nyaman berada dalam lingkungan islami.

Ada sebuah cerita yang penulis dengar pada tahun 1999 lalu. Saat beberapa anak muda sedang berkeliling menyosialisasikan Partai Keadilan, seorang warga menegur mereka, “Kalian ini bikin partai Islam, mana mau yang non muslim gabung sama kalian?”

Rupanya di antara anak muda yang menyosialisasikan PK itu ada seorang yang beragama Budha. Sontak saja dia menyahut, “Saya pak, Budha…” Ujarnya.

Jadi keraguan identitas Islam pada partai politik akan diterima oleh golongan agama lain sudah sangat banyak jawabannya. Ada Otis, caleg PKS beragama Katolik yang tinggal di Papua, seorang die hard PKS karena nyaman berada dalam lingkungan partai Islam. Juga ada Ko Aheng warga keturunan Tionghoa yang sering ikut acara-acara PKS. Karena secara fitrah, lingkungan Islam diterima oleh semua orang. Hanya saja perlu pengenalan agar mereka sadar bahwa lingkungan Islam sangat nyaman.

Lalu kisah tumben padua suara gereja menyanyikan Mars PKS juga menjadi sinyalemen bahwa Partai Islam berhasil mencairkan ketegangan dengan non muslim ketika Partai Islam itu mau berinteraksi inklusif tanpa melepas identitasnya.

Perdebatan tentang wala’ wal baro’ sebenarnya tak terlalu relevan. Memang di daerah mayoritas non muslim, akan ada caleg non muslim dari Partai Islam. Tapi di daerah pemilihan itu, caleg muslim yang ditawarkan oleh partai Islam masih lebih banyak daripada caleg non muslim. Caleg muslim ini lah yang harusnya dipilih oleh umat Islam sesuai wala’ mereka. Sedangkan caleg non muslim yang ditawarkan adalah mereka yang bisa menerima azas Islam dan akan menjalankan amanah sesuai dengan azas partainya. Bila mereka berkuasa, itu karena umat non muslim memilih wakil yang satu iman dan di saat yang sama bisa memerintah secara Islam.

Permasalahan Intern Umat Islam

Partai Islam di Indonesia diapit oleh dua kubu ekstrim: Kaum sekuleris, pluralis, dan liberalis (sepilis) yang menginginkan tercampurnya akidah antar agama; dan umat muslim yang ghuluw (berlebih-lebihan) yang terlalu memusuhi umat non muslim.

Kalangan sepilis ini sejatinya mereka mengaku beragama Islam, dan diikuti oleh umat muslim awam. Mereka menjadi ganjalan kaum islamis berkuasa karena mereka – sadar atau tidak – memerangi perjuangan kaum islamis. Mereka berpedoman “Islam Yes, Partai Islam No”. Tetapi entah di mana jargon “Islam Yes”-nya, karena pada tataran praktis mereka mendukung lokalisasi pelacuran, anti pelarangan pornografi pornoaksi, menyosialisasikan waria, mendukung legalisasi judi, dst. Mereka bersebarangan dengan ide-ide kaum Islamis. Mereka sebenarnya terjangkit islamophobia dan ikut menyebarkan phobia itu.

Sementara di kutub lain, sebagian umat Islam ada yang bersikap ghuluw, isti’jal (tergesa-gesa) ingin merebut kekuasaan, terlampau bersikap keras, dan kurang realistis. Doktrin mereka adalah demokrasi haram, bahkan kufur. Dengan doktrin itu, jelas mereka memusuhi partai Islam, dan semakin bersemangat mencela ketika partai Islam menerima caleg non muslim. Sebagian mereka belum mampu “move on” dari kekalahan Piagam Jakarta. Sikap keras mereka ini membuat umat non muslim (dan juga sebagian umat islam yang awam) semakin menjadi penyakit islamophobianya.

Umat Islam harus siap melepas ganjalan-ganjalan ini dan bertarung dengan elegan. Sinyal penerimaan Islam oleh kalangan non muslim sudah semakin kuat manakala paduan suara gereja tidak canggung berseru “Kibarkan tinggi panji Allah.” Apakah sinyal ini akan kita perlemah dengan sikap keras, atau kita perkuat dengan sikap cair – tanpa meninggalkan prinsip – dan terus memperkenalkan keindahan Islam pada mereka.

Allahua’lam bish-showab.

 
Leave a comment

Posted by on March 5, 2014 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: