RSS

Menyikapi Kritik

04 Jan

Sebenarnya tulisan ini adalah rumusan apa yang harus saya pribadi lakukan saat menghadapi kritik. Hasil dari renungan. Saya share agar ada teman yang memberi masukan dan tambahan. Maklum, rajin dikritik🙂

Karena manusia bukan makhluk yang sempurna, di sisi lain manusia suka menuntut kesempurnaan, maka lontaran kritikan yang ditujukan pada seseorang adalah suatu keniscayaan. Dan tak terelakkan bila kadang kala kita yang menempati posisi terkritik. Itu lah konsekuensi ketidak sempurnaan manusia dan konsekuensi bergaul dengan manusia yang punya watak menuntut kesempurnaan.

Konsekuensi itu tak mungkin kita hindari sebagaimana tak mungkin kita menghindar dari pergaulan dengan sesama manusia. Maka penyikapan yang tepat adalah kuncinya. Karena penerimaan kritik tanpa penyikapan yang baik, seringkali membuat seseorang merana.

Persiapan

Kondisi yang datang tiba-tiba sering disikapi dengan keterkejutan. Biasanya keterkejutan ini melahirkan penyikapan yang kurang rasional, spontan, dan berpeluang besar mengakibatkan sebuah blunder. Orang latah yang kaget, biasanya mengeluarkan sumpah serapah. Ia tidak mempertimbangkan dulu sumpah serapah yang terlontar. Spontan. Dan melontarkan sumpah serapah itu sesuatu yang buruk yang bisa membuat ia menjadi bahan ejekan.

Persis seperti itu penyikapan seseorang yang dikritik. Bila tanpa persiapan, biasanya dengan emosional ia bersikap defensif dan kemudian menyerang balik kritikusnya. Kejadian ini malah bisa memperburuk keadaan.

Jadi, kapan pun di mana pun, bersiaplah akan kehadiran kritik. Persiapan ini harus dilengkapi dengan ancang-ancang penyikapan yang elegan dan terhindar dari blunder.

Bersiap Hadapi Kritik Beserta Kontennya

Yang kita siapkan adalah kedatangan kritik yang konstruktif dan sekaligus kritik yang tidak membangun. Dan kadang kita susah membedakan kritik jenis apa yang datang. Jadi persiapkan semua.

Kritik yang konstruktif adalah kritik yang mendorong kita untuk lebih baik dan disampaikan dengan baik-baik. Pada kritik itu tersisipkan kepercayaan pada kita bahwa kita bisa memperbaiki keadaan yang dikomplen oleh pemberi kritik. Sisipan itu sejatinya adalah pujian. Jadi, kopi pahit kritik jenis ini masih ada gula pemanisnya. Wajar bila kita masih bisa menerima kritik jenis ini.

Tapi jangan terlena sisipannya. Tetap fokus pada substansi kritik!🙂

Kritik destruktif yang tidak membangun biasanya berupa cacian atau ejekan. Atau bisa saja disampaikan baik-baik tapi tetap saja kontennya menyakitkan. Menjatuhkan. Tidak ada ruang kepercayaan pada kita dalam kritik itu.

Kritik jenis ini yang paling susah disikapi. Dan kritik jenis ini bila kita tidak siap akan membuat kita berlaku buruk dan emosional. Atau menjatuhkan mental kita bila kita tidak bisa membalas kritikan. Biasanya dendam akan menjadi embrio yang siap dibesarkan oleh ingatan.

Bersiap Dengan Kritik Langsung Atau Tak Langsung

Kita juga harus bersiap diri bertemu sumber kritikan. Kritikan bisa datang langsung dari pemberi kritik atau tidak langsung melalui cerita teman. Dua-duanya punya sensasi tersendiri.

Kritikan yang langsung, bisa saat itu juga kita jawab. Tapi kritikan tidak langsung menghadirkan keterkejutan yang ganda. Terkejut karena dikritik, dan terkejut tidak menyangka si pemberi kritik rupanya punya penilaian yang tidak kita bayangkan. Kadang kita butuh klarifikasi. Dan sebelum bertemu orangnya untuk diklarifikasi, hati sudah terlanjur sakit dan godaan berbagai prasangka bermunculan di benak.

Tenang

Anis Matta pernah berkata bahwa kita harus tetap tenang saat dikritik. Ketenangan itu bisa hadir kalau kita memang siap dikritik. Ini penting untuk menjaga kita tetap rasional dan tidak panik sehingga membuat blunder.

Selain itu, ketenangan adalah jawaban pertama yang memuaskan bagi pemberi kritik konstruktif (karena ia mengharap perubahan), dan hal yang mengecewakan bagi pemberi kritik destruktif (karena ia menginginkan kita sakit hati)

Menelan Kritikan

Buya Hamka pernah dibilang “tidak tahu apa-apa” oleh orang lain. Apa jawaban ulama besar yang pernah dimiliki oleh Nusantara itu? “Ya, saya memang tidak tahu apa-apa.” Jawaban itu mengagumkan, menggambarkan kerendah-hatian seorang ulama. Dia yang punya ilmu segudang masih disempurnakan dengan sikap elegan menghadapi kritikan. Buya Hamka masih mau menelan kritikan walau kita nilai kritikan itu ngawur. Tentu kritikan konstruktif akan Buya terima dengan lebih baik lagi.

Menelan kritikan adalah dengan mendengarkannya. Tapi pastikan jiwa kita punya mekanisme pencernaan yang baik. Kalau kritikan itu bermanfaat, serap dengan tuntas nutrisi itu, karena hidup kita perlu. Tapi kalau kritikan itu sampah ejekan, biarkan jiwa kita membuangnya. Kalau diserap malah jadi racun dan menyakitkan hati.

Kalau kita merasa perlu mengembangkan diri, maka kita harus banyak-banyak menelan kritikan. Kalau belum apa-apa kita sudah alergi dengan kritikan, mengacuhkan semua kritikan, bagaimana kita bisa tahu kekurangan yang harus kita perbaiki?

Saatnya Mengubah Hidup Kita

Dikritik itu bisa dibilang mutlak lah. Tapi memanfaatkan kritik untuk memperbaiki diri, itu pilihan. Karena hidup itu bergerak, maka orang yang positif adalah orang yang senantiasa bergerak pada arah kebaikan. Hidup ini harus selalu kita tarik ke arah yang baik. Kalau tidak, maka godaan yang mengelilingi kita akan menyeret kita ke kehidupan yang buruk. Kita bisa memanfaatkan kritik sebagai penunjuk arah kepada kehidupan yang lebih baik.

Punya sikap, jelas perlu. Tentu saja kritik yang bisa mengarahkan bukanlah kritik yang tidak bisa diterima oleh prinsip dasar hidup kita. Yang bisa kita manfaatkan untuk perubahan yang baik adalah kritik yang kita nilai baik. Karena itu kita perlu punya basic pandangan baik buruk yang jelas.

Tapi yang namanya orang sudah akil baligh, akalnya sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk.

No Hard Feeling

Ini yang gak banget. Biasanya setelah kritikan terlontarkan, akan ada perasaan-perasaan kesal yang berujung pada dendam. Sangat tidak perlu memelihara perasaan ini, apalagi kalau pelontar kritik adalah orang yang lebih banyak kebaikannya pada kita dibanding keburukannya. Coba hitung-hitung lagi.

Lagi pula, memelihara perasaan ini berarti membiarkan kita tersakiti. Coba bayangkan seorang yang cuek, cool, yang tidak mempan atas caci maki kepadanya. Hidupnya lebih terasa ringan daripada orang yang tipis kuping yang mudah emosi.

Hiduplah Dengan Kekurangan Kita

Terakhir, soal perfeksionis. Sah-sah saja menjadi perfeksionis. Tapi jangan sampai merepotkan. Jangan sampai kita menjadi penuntut dan pengeluh karena kondisi ideal tidak didapatkan. Atau jangan sampai kita menyalahkan diri terlalu dalam sehingga energi terkuras hanya untuk mengumpat diri sendiri.

Posisi paling baik adalah menjadi seorang yang terus menerus memperbaiki dan bergerak ke arah yang positif, bukan penuntut kesempurnaan dengan segala keluh kesah gerutunya.

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2014 in Artikel Umum

 

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: