RSS

Save Citarum, Sebuah Implementasi Syariah Islam

21 Nov

Senin lalu, 18 November 2013, Ahmad Heryawan melalui akun twitternya @aheryawan mengkampanyekan gerakan #SaveCitarum. Gerakan yang ingin menormalisasi Sungai Citarum, sungai yang membelah provinsi Jawa Barat sepanjang 300 KM, berhulu dari lereng Gunung Wayang sebelah tenggara Kota Bandung, mengaliri Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.

Menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitarnya (Bank Pembangunan Asia memperkirakan 28 juta jiwa masyarakat tergantung langsung hidupnya dari sungai Citarum), ada sekitar 500 pabrik berdiri di sekitar aliran ini. Berbagai kegiatan dilakukan di sekitar sungai yang diberi nama dari tumbuhan penghasil nila ini dari sumberdaya perikanan (memancing, menjala, atau berbudidaya ikan dalam keramba jaring apung), juga ada tiga PLTA memanfaatkan sungai ini (yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, dan PLTA Jatiluhur), dan air sungai Citarum juga dimanfaatkan untuk pasokan air minum bagi warga Jakarta.

Sayang, dari beberapa laporan ditemukan pabrik-pabrik yang membuang limbahnya ke sungai ini sehingga Citarum sangat dikenal dengan kerusakannya. Situs huffingtonpost.com pernah memasukkan Citarum sebagai satu dari sembilan tempat paling tercemar polusi. Selain rusak oleh limbah pabrik, kesadaran masyarakat yang rendah yang membuang sampah ke sungai juga membuat wajah Citarum tak karuan.

Selain rusak karena polusi, sungai ini juga sering menimbulkan masalah berupa banjir saat musim hujan tiba. Daerah yang menjadi langganan banjir Citarum adalah Baleendah dan Dayeuhkolot di Kabupaten Bandung, Kabupaten Karawang, hingga di muaranya di Pantai Bagagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

Yang menjadi sorotan adalah Sungai Citarum ini berada di Provinsi Jawa Barat yang dipimpin oleh kader Partai Islam PKS, Ahmad Heryawan. Karena kurangnya informasi, banyak yang menyangka syariat Islam hanyalah berkutat pada hukum potong tangan atau qishosh. Padahal kebersihan dan kesehatan lingkungan juga menjadi tanggung jawab seorang muslim. Syariat Islam mengatur itu.

Karena itu langkah memurnikan Sungai Citarum sudah merupakan keharusan sebagai implementasi syariat Islam. Suku Sunda yang menjadi warga asli Jawa Barat dikenal dengan identitas muslimnya. Kesadaran menjaga lingkungan harusnya sudah otomatis ada pada jiwa masyarakat sekitar Citarum. Dan sikap tegas pemerintah daerah untuk menindak pabrik yang mengotori Citarum menjadi tuntutan atas dasar Islam.

Bumi ini medan penghambaan bagi manusia. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS 2:130). Salah satu bentuk amanah yang dipikul oleh “khalifah” itu adalah menjaga kelestarian di tempat ia hidup, hingga bila manusia telah merusak bumi ini, Allah swt datangkan akibatnya.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS 30:41)

Allah swt juga berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut, “Firman Allâh Azza wa Jalla (yang maknanya), ‘Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.’ Allah melarang tindakan perusakan dan hal-hal yang membahayakan alam, setelah dilakukan perbaikan atasnya. Sebab apabila berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik lalu setelah itu terjadi perusakan, maka hal itu lebih membahayakan umat manusia. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla melarang hal itu dan memerintahkan para hamba-Nya agar beribadah, berdoa, dan tunduk serta merendahkan diri kepada-Nya.”

Rasulullah menegaskan tentang anjuran kebersihan lingkungan dalam sabdanya, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)

Dan juga ada kalimat mutiara (bukan hadits) yang sangat sesuai dengan ruh Islam, yaitu “an-nazhaafatu minal iimaan” atau “Kebersihan itu sebagian dari iman.” Kalimat ini sering diajarkan oleh para asatidz kepada murid-muridnya.

Kembali pada semangat Ahmad Heryawan untuk membersihkan Citarum, tentu itu perlu didukung oleh berbagai kalangan. Tidak hanya dari aparatur pemerintahan, juga pendekatan para ulama untuk menyadarkan warganya agar menjaga kebersihan Citarum.

Langkah pembersihan Citarum yang disampaikan Ahmad Heryawan sudah ada terobosan. Sebelumnya aktivitas normalisasi hanya sekedar pengerukan dan dilakukan parsial oleh kabupaten masing-masing. Kini pembersihan Citarum dilakukan setahap demi setahap dimulai dari 20 Km awal terhitung dari kawasan Situ Cisanti – kawasan Koyod (Majalaya). Dana yang dipersiapkan sebesar Rp 100 Milyar lebih. Dan ditargetkan 4 tahun kedepan Citarum akan bersih sepanjang 77 Km.

Langkah pembersihan sebuah sungai sebenarnya sederhana saja. Bila sebuah sungai terlindung dari sampah dan polusi, maka sungai itu tak kan ada masalah. Yang menyebabkan kotor dan dangkalnya sungai ialah sampah. Itu saja.

Jadi, bila penegakkan hukum yang tegas terhadap pabrik yang mengotori sungai dijalankan, maka Sungai Citarum akan terlindungi. Bila tindakan itu berupa denda, dananya bisa dipakai untuk operasional normalisasi. Selain itu, karena sungai ini mengalir beberapa kabupaten, maka tiap kabupaten musti punya skema penanganan sampah yang tersusun rapi agar warga tidak perlu membuang sampah ke sungai.

Kita tunggu, saat Citarum menjadi kebanggan warga Jawa Barat, dan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin terwujud melalui kader partai Islam.

Referensi:

http://www.islamedia.web.id/2013/11/kampanye-savecitarum-dari-kang-aheryawan.html

http://regional.kompas.com/read/2010/03/20/10144512/Banjir.Citarum.dari.Hulu.sampai.Hilir

http://alamendah.org/2010/09/02/citarum-menjadi-sungai-paling-tercemar-di-dunia/

http://id.wikipedia.org/wiki/Ci_Tarum

http://almanhaj.or.id/content/3456/slash/0/islam-dan-lingkungan-hidup/

 
4 Comments

Posted by on November 21, 2013 in Artikel Umum

 

4 responses to “Save Citarum, Sebuah Implementasi Syariah Islam

  1. Lidya

    November 22, 2013 at 6:36 am

    semoga bisa terwujug menyelamatkan citarum

     

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: