RSS

Susahnya Menyeberang Di Lenteng Agung

30 Dec

Tiap pagi, saat berangkat bekerja, ada ritual mendebarkan yang harus saya jalani. Yaitu saya harus menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung. Jalan yang terdiri dari dua jalur yang dipisahkan oleh rel kereta api. Seharusnya tak ada yang istimewa dari menyeberang jalan. Tapi Jalan Raya Lenteng Agung menurut saya punya tantangan tersendiri untuk menaklukannya. Bukan cuma menurut saya, tapi juga masyarakat sekitar.

Rumah saya (masih kontrak) berada di Kelurahan Srengseng Sawah RW 2. Untuk pergi ke kantor, saya harus naik angkutan yang mengarah ke Jakarta. Satu jalur jalan – saya tak hafal lebarnya, tapi bisa muat 4 mobil berjajar – yang arusnya mengarah ke Depok harus saya lewati. Saya menargetkan bisa menyeberang sebelum jam setengah tujuh, karena kalau lewat dari jam tersebut, kendaraan makin ramai. Arus yang mengarah ke Depok memang lengang dibanding jalan yang arusnya mengarah ke Jakarta. Tapi justru karena lengang, orang-orang memacu kendaraannya kencang-kencang. Di sini letak kesulitannya. Karena kalau mau nekad menerobos, berapa sigap supir mobil/motor mengerem kendaraannya saat berkecepatan tinggi?

Tapi yang jelas arus ini lebih mudah dilalui. Selanjutnya, telah menunggu rel kereta api dua arah untuk diseberangi. Sudah sering orang tertabrak kereta api di sekitar situ. Memang kereta jarang-jarang munculnya. Tapi catatan beberapa kecelakaan membuat lintasan ini tetap angker untuk diseberangi.

Kemudian, tantangan berikutnya adalah jalur lain yang lebarnya tidak beda jauh dengan jalan sebelumnya. Kali ini arusnya mengarah ke Jakarta. Saat jam kerja, kendaraannya sangat padat. Ramai lancar. Kalau merayap, masih bisa diseberangi dengan mudah. Tapi kalau ramai lancar, agak horror bagi penyeberang jalan. Kadang cara yang dilakukan adalah nekad menerobos arus dengan memberi isyarat kendaraan dengan tangan agar mau memperlambat atau berhenti.

Cerita kecelakaan saat orang menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung ini sudah sering terdengar. Yang pernah saya dengar – seingat saya – pernah yang menjadi korban adalah nenek-nenek. Orang yang tidak gesit tentu berpotensi besar menjadi korban.

Tantangan ini diperparah dengan motor yang sering melawan arus. Pernah ada yang menjadi korban ketabrak motor yang melawan arus ini. Saat itu, si korban hendak menyeberang. Konsentrasi pada satu arah membuat ia tak sadar ada motor dari arah berlawanan. Saya pun pernah hampir dilanggar oleh motor yang melanggar arus. Saat kondisi memungkinkan untuk menyeberang, saya yang berada di tepi mulai mengayunkan langkah. Dan… hampir saja dicumbu oleh motor yang melawan arus.

Ini cerita di satu tempat. Di sepanjang Jalan Raya Lenteng Agung, menyeberang jalan bukan hal yang mudah. Bahkan dibilang sangat sulit. Hanya di depan stasiun Lenteng Agung saja agak mudah, itu pun karena penyeberang jalan ramai. Orang-orang bergerombol nekad membelah arus. Kalau yang menyeberang cuma satu atau dua orang saja, menyeramkan.

Memang ada jembatan penyeberangan. Tapi sepanjang Jalan itu – dari perbatasan Depok sampai Tanjung Barat – hanya ada 2. Satu di halte UI, satu lagi di stasiun Pancasila. Yang terdekat dari tempat saya biasa menyeberang adalah halte UI. Kalau mau kesana, bisa menghabiskan jalan – kecepatan normal – lima belas menit.

Aspirasi sudah disampaikan kepada yang berwenang. Tapi entah kenapa tidak pernah terwujud adanya jembatan penyeberangan yang memudahkan orang. Di sekitar Stasiun Lenteng Agung selalu menjadi langganan macet. Orang yang menyeberang jalan memberi kontribusi cukup besar dalam kemacetan. Andai ada jembatan penyeberangan, tentu kemacetan bisa dikurangi.

Entah lah… Apa yang dipikirkan oleh pemerintah. Rasanya urusan nyawa bukan hal yang sepele. Apakah mereka tidak pernah berfikir bahwa kasus kecelakaan – termasuk kasus orang tertabrak kereta – kelak akan ditanyakan kepada orang yang memerintah Jakarta saat ini di Hari Kiamat.

Tulisan ini untuk suarajakarta.com

 
21 Comments

Posted by on December 30, 2011 in Orat Oret

 

21 responses to “Susahnya Menyeberang Di Lenteng Agung

  1. Ely Meyer

    December 30, 2011 at 12:52 pm

    wadow .. aku lihat fotonya saja ngeri, padat banget lalu lintasnya ya, bgmn mau nyebrang kalau nggak ada alat bantunya , kayak jembatan penyebarangan atau lampu lalu lintas di sepanjang jalan raya itu ?

    tahun lalu pernah lewat daerah ini , tepatnya di stasiunnya

     
    • Zico Alviandri

      December 30, 2011 at 1:43 pm

      Bisa sih.. dinekat-nekatin. memang badan tarohannya😀

       
  2. Maya

    December 30, 2011 at 3:38 pm

    ihhhh padatnyaa…
    hati-hati ^^ tetap semangat!

     
  3. indobrad

    December 30, 2011 at 3:47 pm

    doh, saya inget daerah situ emang ngeri. Margonda juga. padahal apa susahnya bangun jembatan penyeberangan doang😦

     
  4. Gandi R. Fauzi

    December 30, 2011 at 4:22 pm

    Mas bro, emang sekarang trafik sudah terlampau padat,😦

     
  5. Budiman Firdaus

    December 30, 2011 at 10:40 pm

    kalau saya susahnya nyebrangnya di pocin mas,😦

     
  6. Fifin

    December 31, 2011 at 2:32 pm

    wah iya yah.. susah kalo situasinya begitu. Untuk situasi sekarang sih musti hati-hati saja.

    Pernah dulu saya sempat menyeberang jalan yang punya arus kencang, malam-malam lagi. Wuih hampir ketabrak, untuk saya menggunakan senter yang saya arahin ke bagian depan sopir. Ha ha memang ndak sopan sih, cuma gimana lagi, itu cara untuk membuat sopir tahu bahwa ada yang menyeberang jalan hik hik..

    Semoga pemerintah segera merealisasikannya.

     
  7. robbydarwis manajer ofm

    December 31, 2011 at 3:37 pm

    kur…beli mobil ato motor lah…jadi ga usah2 nyebrang lagi…salary pan dah 1 milyar…piss

     
    • dwieko

      January 1, 2012 at 12:21 pm

      Zic… harus nyebrang jalan itu yach.. biar aman elu modal dikit beli alat bantu nyebrang yang dipakai polisi sekolah, sekalian pakai seragamnya kalau perlu agar terlihat tambah keren. Atau modal agak banyak, beli kendaraan biar ikutan menyumbang kemacetan jakarta😉.. yang lebih baik sich cari tempat tinggal dekat kantor, kalau belum mampu bisa ikutin saran yang agak nyeleneh. Cari istri ke 2 yang tinggal deket kantor.. jadi elu akan jarang nyebrang tuch jalan lagi, cuman saat mengujungi istri tua.. Tetap semangat bro..😉

       
  8. Rojak is Reza

    January 2, 2012 at 3:00 pm

    mohon maaf buat bang zico, mungkin saya salah satu orang yang membuat anda sulit untuk nyebrang di sana #plak
    iya sih saya sering lewat situ dan emang cuma ada dua jembatan penyebrangannya, udah gitu jelek pula itu jembatan birunya, takut kalo orang badan gede kaya saya naik itu eh ambruk dah tu jembatan hehe.. semoga gubernur baru nanti mau bikin jembatan di situ

     
  9. kakaakin

    January 2, 2012 at 6:21 pm

    Gini nih efek dari terlalu mudahnya punya kendaraan di Indonesia. Jalan raya jadi padat banget😦

     
  10. Ely Meyer

    January 2, 2012 at 9:15 pm

    met tahun baru ya🙂

     
  11. ysalma

    January 3, 2012 at 9:52 am

    Setiap hari sepertinya harus bersiasat dengan kecepatan kendraan yaa,
    semoga pemerintah depok mengapresiasi secepatnya.

     
  12. Iman

    January 4, 2012 at 3:56 am

    Kalau untuk kepentingan rakyat banyak biasanya agak susah bro untuk dibangun jembatan penyeberangan, nah kalau ada mal di bangun di situ baru deh cepet pembuatan jembatan penyeberangannya hihihi

     
  13. jarwadi

    January 5, 2012 at 12:28 am

    nah apalagi saya yang orang udik, sekali kali ke jakarta saya sering repot dimana aman menyebrang jalan😦

    kalau ada sih sering manfaatin tangga halte busway

     
  14. galihsatria

    January 6, 2012 at 12:54 am

    Hehehe bener juga, pagi-pagi saya bisa full speed kalo ke arah Depok lepas dari underpass Pasar Minggu:mrgreen:

     
  15. Asop

    January 6, 2012 at 4:16 pm

    Wah wah… sampai segitunya hidup di jakarta dan sekitarnya… ini bukti bahwa di Indonesia, pejalan kaki belum diprioritaskan.😐

     
  16. Susan Noerina

    January 7, 2012 at 9:24 pm

    Itulah sebabnya gw ga suka tinggal di kota2 besar kaya jakarta😦

    Tapi bener loh Mas, kebiasaan kerja di rimba belantara, sekalinya turun ke kota mo nyebrang rsanya dag-dig-dug-kembang-kuncup ngeliat mobil banyak amith🙂

    Moga2 jeritan hati Bang Zico didenger sama Om Kumis yeee🙂

     
  17. nopha kartika

    January 14, 2012 at 10:59 am

    wahh wahh…. msti bkin jembatan penyebrangan juga tuh….
    kasian yang penjalan kaki…..

     
  18. Lufisdeat

    June 17, 2012 at 7:09 am

    lenteng agung memah parah udah kumah parah dah visi back yach http://www.lufisdeat.com/2011/03/tukeran-link.html

     
  19. intan

    December 28, 2012 at 6:17 am

    Bener banget. Harus punya keahlian dan keberanian tingkat dewa buat menyebrang di jalan Lenteng Agung. Saya ngekos di Jl. Syukur. Dan sepulang dr keperluan di Depok harus menyebrang sebanyak 4x. Jalur jalan raya 3x dan jalur kereta 1x. Pengendara motor dan mobil tidak memberi celah bagi penyebrang jalan. Walau menyebrang secara beramai-ramai di atas zebra cross pengemudi tetap ngebut.

     

Komentar dooong...!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: